Minggu, 29 Mei 2011

Menguatkan Iman Anda

Bacaan Hari ini :
Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."

__________________________________________

Untuk memahami ayat ini sepenuhnya, Anda perlu tahu bahwa jika Anda diselamatkan, iman telah disimpan di dalam hati Anda.
Ini adalah bagian dari DNA rohani Anda.
Roma 12:3 mengatakan bahwa, Allah telah membagikan kepada masing-masing orang sebuah ukuran iman.
Iman adalah sesuatu yang Dia sudah diberikan sejak awal Anda menerima keselamatan.

Namun, terserah kepada Anda untuk mengembangkan iman itu.
Terserah kepada Anda untuk melakukan sesuatu dengan iman yang Anda miliki.
Bagaimana Anda mengembangkannya?
Anda dapat mengembangkan iman pertama dan terutama dengan mendengarkan Firman Tuhan.

Alkitab -- Firman Tuhan -- adalah makanan bagi iman.
Saat Anda mengkonsumsi Firman Tuhan, iman Anda akan diperkuat.

Anda pasti pernah melihat para body builder, pria dan wanita yang terus-menerus membangun kebugaran dan bentuk tubuh.
Nah, jika Anda berbicara dengan para body builder yang serius membangun kebugaran tubuh, salah satu hal pertama yang akan mereka katakan adalah program diet.
Anda harus mengkonsumsi makanan yang tepat jika Anda mau membangun otot.
Biasanya, diet yang mereka lakukan adalah diet kaya protein.

Mereka rajin mengkonsumsi minuman protein dan makan sandwich ikan tuna, yang ketika dikonsumsi dan dicerna, akan menjadi bahan baku yang membangun kekuatan dan bentuk otot.

Ketika Anda makan dan mencerna Firman Tuhan, kebenaran menjadi bahan baku yang akan membangun iman Anda.
Ini adalah makanan iman.

Kebanyakan orang mengalami kesulitan untuk membangun iman mereka karena mereka makan atau mengkonsumsi hal-hal yang salah.
Iman akan terbangun secara otomatis ketika Anda mengkonsumsi Firman Allah.
Jadi hari ini, jika Anda merasa seperti Anda sedang berjuang dalam iman Anda, maka lakukan perubahan pada makanan Anda.
Mulai banyak mengkonsumsi Firman Tuhan!


Iman sudah diberikan oleh Tuhan ketika kita diselamatkan, namun adalah terserah pada kita untuk membangun dan mengembangkan iman yang kita miliki.


(Diterjemahkan dari Answers for Each Day by Bayless Conley)

Sabtu, 28 Mei 2011

Jangan Hanya Duduk Diam

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” 2 Petrus 3:9

Ketika dipenuhi dengan Roh Kudus, kita akan selalu merasakan kesukacitaan menghadapi segala pergumulan yang kita hadapi, seberapa beratpun pergumulan itu.  Tuhan berfirman bahwa: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” I Kor 10 : 13. Ini kita akan dapat hadapi dengan penuh kepercayaan diri.  Tentunya kepercayaan diri kita ini bisa dibagikan kepada orang lain untuk saling menguatkan satu sama lain. misalnya ketika kita menghadapi permasalahan di rumah tangga kita.  Jika kita dengan kemarahan kita untuk saling menyerang masing-masing, maka pada saat itu kita tidak akan mendapatkan suatu jalan keluar yang terbaik dengan emosi yang masih meluap luap.  Kita tidak akan mendapatkan kasih setia Tuhan bagi keluarga kita, bahkan mungkin juga disaat seperti itu kita bisa lupa kalau kita ini adalah Keluarga Allah.  Kita akan menjadi lupa kalau kita sebagai keluarga Allah sering dipantau oleh tetangga kita, yang mungkin akan membuat pekabaran Injil dilingkungan kita akan sangat menjadi terpengaruh.  Bahkan mungkin tanpa kita sadari ada keluarga lain yang melihat kehidupan kita dan ingin mempelajari Iman kepercayaan kita, akan akan menjadi kendor, jika kita tidak bisa membawa berkat bagi lingkungan sekitar kita.

Maka jika kita bisa melewati masalah ini dengan tuntunan dari pada Tuhan Yesus, maka tentunya ada kerinduan bagi kita untuk membagi kemenangan Iman kita dengan sesama kita yang mengalami hal yang hampir sama dengan yang telah kita alami.  Dan ingat !!! berkat-berkat Allah akan melimpahi keluarga kita jika kita selalu menempatkan Yesus sebagai yang pertama dan terutama dalam hidup ini.  Ketika Roh Allah menguasai hati, hal itu mengubah hidup.

”Pikiran pikiran yang membawa dosa akan dijauhkan dan perbuatan perbuatan jahat ditinggalkan di mana cinta, kerendahan hati dan kedamaian akan menggantikan amarah, iri hati dan percekcokan,  kegembiraan menggantikan kesedihan, dan raut wajah memantulkan cahaya surgawi” Desire of Ages pp 173.

Berkat Tuhan dalam rumah tangga kita akan lebih menggembirakan lagi jika kita semuanya juga turut serta dalam pekerjaan Allah. ”Mereka yang tidak mengadakan usaha yang sungguh sungguh, yang hanya sekedar menunggu Roh Kudus untuk memaksa mereka bertindak, akan binasa dalam kegelapan.  Janganlah hanya duduk diam dan tidak melakukan apa apa dalam pekerjaan Allah” Christian Service pp 228.

Ingat !!! Tuhan tidak pernah melalaikan kita.  Kita akan mendapatkan berkat yang penuh kesukaan jika kitapun tidak lalai dengan tugas dan tanggungjawab kita kepada Tuhan.  Firman Tuhan berbunyi:  ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” 2 Petrus 3:9.

Kiranya berkat yang limpah selalu menjadi bagian keluarga kita. 

Selamat Sabat.


Oleh :Pdt. Robert Walean, Jr. (diambil dari Kadnet)

Rabu, 25 Mei 2011

Hadiah Sejati

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. —Efesus 5:25

Saya sungguh kagum dengan pengaruh yang diberikan istri saya, Martie, terhadap kehidupan anak-anak kami. Tidak banyak peran yang menuntut pengorbanan dan ketekunan diri serta komitmen tanpa pamrih, seperti peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Saya tahu dengan pasti bahwa karakter dan iman saya dibentuk dan dibangun oleh ibu saya, Corabelle. Akuilah, apa jadinya kita tanpa istri dan ibu kita?

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu peristiwa favorit saya dalam dunia olahraga. Phil Mickelson berjalan menyusuri lahan datar setelah lubang ke-18 dalam Turnamen Golf Masters di tahun 2010 setelah ia menyelesaikan pukulan terakhirnya untuk memenangi kejuaraan golf yang paling bergengsi tersebut untuk ketiga kalinya. Namun, bukan lompatan kemenangan Phil di atas lapangan yang membuat saya terkesan, melainkan saat-saat ketika ia berjalan menerobos kerumunan penonton untuk menemui sang istri, yang sedang berjuang melawan kanker yang mengancam jiwanya. Mereka pun berpelukan, dan kamera menangkap tetes air mata yang mengalir di pipi Phil, ketika ia memeluk erat istrinya untuk waktu yang cukup lama.

Istri kita perlu mengalami kasih yang rela berkorban dan tanpa pamrih yang telah ditunjukkan kepada kita oleh Tuhan, Kekasih jiwa kita. Seperti Paulus berkata, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25). Hadiah datang dan pergi, tetapi orang-orang yang Anda kasihi—dan yang mengasihi Anda—adalah yang terpenting dari semua. —JMS

Seorang pria yang mempunyai istri saleh
Telah diberkati secara luar biasa;
Dialah hadiah yang terbesar dalam hidup—
Harta yang berharga dan langka. —D. De Haan


Hidup dijalani bukanlah demi memenangi hadiah, melainkan demi orang yang kita kasihi.

Diambil dari RBCindonesia

Selasa, 17 Mei 2011

Pilihan selain balas dendam

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. —Imamat 19:18


Pada suatu hari Minggu ketika sedang berkhotbah, sang pendeta tiba-tiba ditegur dan ditonjok oleh seorang pria. Pendeta ini tetap melanjutkan khotbahnya, dan pria yang memukulnya ditangkap. Pendeta ini berdoa untuk pria tersebut, bahkan mengunjunginya di penjara beberapa hari kemudian. Sungguh suatu teladan tentang bagaimana cara menanggapi penghinaan dan kekerasan!

Meskipun seseorang diperbolehkan untuk membela diri, tetapi balas dendam pribadi adalah sesuatu yang dilarang dalam Perjanjian Lama: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN” (Im. 19:18; lihat juga Ul. 32:35). Balas dendam juga dilarang oleh Yesus dan para rasul (Mat. 5:38-45; Rm. 12:17; 1 Ptr. 3:9).

Hukum Perjanjian Lama membenarkan pemberian ganjaran yang setimpal (Kel. 21:23-25; Ul. 19:21), untuk memastikan bahwa hukuman peradilan tidak memihak atau bermaksud jahat. Namun, ada prinsip lebih besar yang mengancam berkaitan dengan dendam pribadi: Keadilan harus tetap ditegakkan, tetapi dengan cara menyerahkannya ke tangan Allah atau kepada pihak berwenang yang ditetapkan oleh-Nya.

Alih-alih membalas dendam atas penderitaan dan penghinaan yang dialami, marilah kita menjalani pilihan hidup lain yang memuliakan Kristus dan yang dimampukan Roh-Nya: hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Rm. 12:18), tunduk kepada seorang pengantara rohani (1 Kor. 6:1-6), dan menyerahkan masalahnya kepada pihak yang berwenang, dan terutama sekali ke tangan Allah. —MLW

Tuhan, saat aku terganggu karena hinaan orang lain, tolong aku
melepaskan hasrat untuk balas dendam. Kiranya aku mencari
keadilan dengan menyadari bahwa itu akan terjadi sesuai waktu-Mu.
Aku mau belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Amin. 

Serahkan keadilan akhir ke tangan Allah yang Maha adil.
Diambil dari RBC Indonesia 

Senin, 16 Mei 2011

Badai yang mengkoreksi

Bacaan Hari ini :
Ibrani 12:5-6  "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 'Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.'"


Badai akan datang dalam kehidupan, dalam bentuk penderitaan atau krisis atau bahkan tragedi.
Akan ada saat ketika kita bisa mengantisipasi badai, ketika kita melihat awan mulai gelap dan mendengar bunyi guntur dari kejauhan.
Di lain waktu, badai akan tiba dengan tidak terduga.
Tetapi siapapun tidak akan dapat melewatkan kenyataan bahwa kita semua pasti akan melalui badai.

Kita dapat membawa beberapa badai pada diri kita sendiri sebagai hasil dari tindakan-tindakan kita.
Kita  melakukan sesuatu yang salah dan kita akan menghadapi konsekuensi.
Sebuah contoh klasik dari hal ini adalah pengalaman Yunus.
Tuhan telah memanggil Yunus, orang Israel, untuk pergi dan membawa pesan pertobatan ke kota besar Niniwe.
Tetapi orang-orang Niniwe adalah musuh Israel.
Jadi Yunus berpikir bahwa jika dia berkhotbah kepada orang Niniwe, mereka mungkin akan bertobat dan Tuhan akan mengasihani mereka.
Di sisi lain, jika dia tidak berkhotbah kepada mereka, mereka tidak akan mau bertobat, dan Tuhan akan menghancurkan mereka.
Maka musuh Israel akan berkurang satu lagi.
Jadi, Yunus naik sebuah kapal yang melakukan perjalanan ke arah yang berlawanan dari yang Tuhan telah perintahkan.

Badai mengerikan berkecamuk begitu parah, yang bahkan membuat para pelaut berpengalaman mulai memanggil dewa-dewa mereka, berharap untuk diselamatkan.
Akhirnya ditetapkan bahwa badai yang mereka hadapi adalah hasil dari ketidaktaatan Yunus.
Jadi Yunus dibuang ke laut, dan Anda tahu sisa ceritanya.

Itulah yang kita sebut sebagai badai yang mengoreksi.
Badai yang mengoreksi adalah pengingat bahwa Allah mengasihi kita.
Jika Allah tidak mengasihi Yunus, Dia tidak akan mengirimkan badai.
Tetapi Dia ingin menarik perhatian Yunus dan membuatnya kembali ke dalam jalur yang benar.
Jadi, jika Anda menemukan diri Anda berada di tengah-tengah badai yang mengoreksi, ketahuilah bahwa itu adalah karena Allah mengasihi Anda.
 
Tuhan akan menegur dan menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya mereka dapat kembali ke jalur yang benar menuju berkat dan kehidupan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)

Sabtu, 14 Mei 2011

Singkirkanlah yang tidak perlu

Yesaya 62:10
“Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa!”




Suatu hari seorang wanita muda mengunjungi Michaelangelo di sanggar patungnya. Wanita tersebut begitu terkesima melihat Angelo bekerja, ia berkata, “Saya tahu bahwa mematung itu begitu mudah setelah melihat cara kerja Anda. Karena saya yakin saya juga dapat melakukannya.” “Tentu, sama sekali tidak sulit,” jawab Angelo. “Semua yang Anda butuhkan hanyalah sebongkah marmer, palu, pahat. Kemudian Anda hanya memukul-mukul dan membuang bagian marmer yang tidak Anda inginkan.”

Tahukah Anda bahwa untuk menjadi seorang yang unggul, manusia cukup membuang bagian-bagian yang tidak kita inginkan dalam hidup? Apa sajakah itu? Kemalasan, menunda-nunda pekerjaan, egois - segala sifat buruk yang sebenarnya dapat kita buang. Namun, itu semua tergantung pada sikap kita sendiri. Ingatlah akan hal ini: daging memang lemah, tetapi roh penurut.

Jika kita terus melatih roh kita, maka makin lama roh kitalah yang akan kuat. Dan dengan sendirinya justru kita bisa mengalahkan kebiasaan-kebiasaan negatif. Mungkin ada yang berkata, “Ya, sebenarnya saya mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang merugikan, tetapi jujur saya menyadari bahwa saya tidak sanggup.” Benarkah ini? Mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif bukanlah soal bisa atau tidak bisa, tetapi lebih kepada adakah kemauan yang kuat untuk berubah.

Hari ini marilah kita berdoa agar Roh Kudus memberi kita kemampuan untuk mengubah setiap kebiasaan kita yang tidak berkenan di hati-Nya. Kemudian miliki komitmen untuk berubah. Dan lihatlah diri kita pasti menjadi pribadi yang semakin baik setiap harinya.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang terus dipelihara merupakan penghalang Anda untuk mencapai tujuan hidup yang Allah sudah rancangkan sebelumnya. 

Sumber: Renungan Bulanan Profesional Desember 2009

Rabu, 11 Mei 2011

Prasangka baik

 [Kasih] menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. —1 Korintus 13:7

Pada tahun 1860, Thomas Inman menganjurkan kepada dokter-dokter sejawatnya untuk tidak memberikan resep obat terhadap suatu penyakit, jika mereka tidak yakin akan khasiatnya. Mereka harus memberikan para pasien “prasangka baik” dari keraguan mereka. Di dunia hukum, istilah ini berarti bahwa bila juri menganggap bukti-bukti yang ada masih bertentangan dan menimbulkan keraguan, mereka harus memberikan keputusan “tidak bersalah.”

Mungkin sebagai orang Kristen, kita dapat belajar dan menerapkan istilah kedokteran dan hukum ini dalam hubungan kita dengan sesama. Lebih baik lagi, ternyata dari Alkitab kita dapat belajar untuk memberikan prasangka baik terhadap diri orang lain. Surat 1 Korintus 13:7 mengatakan bahwa kasih “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Leon Morris dalam seri tafsiran Tyndale New Testament Commentaries mengatakan bahwa istilah “percaya segala sesuatu” berarti “melihat sisi terbaik dari orang lain . . . Ini tidak berarti bahwa kasih itu mudah dibohongi, melainkan bahwa kasih itu tidak memikirkan yang terburuk (seperti kebiasaan duniawi pada umumnya). Kasih tetap mau percaya. Kasih tidak terperdaya . . . tetapi senantiasa siap memberikan prasangka yang baik terhadap sesama.”

Ketika kita mendengar suatu kabar negatif tentang seseorang atau ketika kita mencurigai motivasi dari tindakan mereka, marilah berhenti sejenak sebelum menentukan bahwa maksud mereka baik atau buruk. Marilah kita memberi mereka prasangka yang baik. —AMC
Jangan terlalu cepat menghakimi apa yang kau lihat;
Jangan ditipu oleh kesan pertama;
Kesalahpahaman jadi berlipat ganda,
Jika tanpa informasi yang benar. —Sper

Kasih memberikan prasangka baik terhadap orang lain.
 
Diambil dari: rbcindonesia 

Selasa, 10 Mei 2011

Memiliki hati yang terbuka

Bacaan Hari ini :
Kisah Para Rasul 16:14 "Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."


Di kota Filipi, dimana Allah telah mengarahkan Paulus dan mereka yang berjalan dengan dia, ada sekelompok perempuan yang berkumpul bersama di tepi sungai untuk berdoa.
Paulus mulai berbicara kepada perempuan-perempuan itu, dan mengatakan kepada mereka beberapa hal yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Mereka terbiasa untuk hidup di bawah hukum taurat Yahudi, dan Paulus menyampaikan pesan mengenai kasih karunia.
Salah satu perempuan yang bernama Lidia memiliki hati yang terbuka untuk menerima apa yang Paulus katakan.

Alasan mengapa hati yang terbuka begitu penting adalah bahwa tanpa hati yang terbuka, kita tidak akan dapat mendengarkan sesuatu yang baru atau berbeda dari yang kita kenal atau tahu.
Sungguh menakjubkan bahwa kadang kita menolak untuk percaya pada hal-hal yang ada didalam Alkitab karena hal-hal tersebut bukan bagian dari apa yang telah diajarkan pada kita di masa lalu.
Mengapa kita tidak bisa memiliki iman yang progresif?
Mengapa kita tidak bisa menerima bahwa mungkin ada beberapa hal yang kita tidak tahu?
Itu tidak berarti kita harus menjadi begitu terbuka sehingga kita bisa percaya pada kebohongan setan, tetapi ini berarti bahwa kita tidak perlu terlalu berpikiran sempit, sehingga kita tidak dapat menerima sesuatu yang baru.

Kita tidak perlu takut untuk mendengarkan hal-hal baru yang dikatakan, karena sebagai orang percaya, kita dapat memeriksa sendiri dengan membaca Alkitab dan berbicara kepada Allah tentang hal itu, untuk melihat apakah hal itu adalah benar.
Saya prihatin pada orang-orang yang berpikir bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk melakukan sesuatu, dan itu adalah cara mereka sendiri.
Kita harus memiliki hati yang terbuka.

Ini akan menuntun kita untuk terus belajar dan mendapatkan kebenaran firman Tuhan.

Memiliki hati yang terbuka adalah kunci untuk dapat menerima kebenaran firman Tuhan yang akan mengubah kehidupan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Joice Meyer)

Senin, 09 Mei 2011

Kasih yang menolong

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. —Yohanes 1:14


Di akhir hidup ibu saya di dunia ini, ia dan Ayah masih begitu saling mengasihi dan sama-sama memiliki iman yang teguh dalam Kristus. Ibu mengidap penyakit dementia (penurunan daya ingat) dan mulai kehilangan semua ingatannya, bahkan tentang keluarganya sendiri. Namun, ayah tetap rajin mengunjunginya di rumah tempat ibu dirawat dan berusaha begitu rupa untuk menyesuaikan diri dengan kondisinya yang terus menurun.
Misalnya, ayah akan membawakan sekeping permen, membukakan bungkusnya, dan meletakkannya di mulut ibu—sesuatu yang tak dapat dilakukan sendiri oleh ibu. Kemudian saat ibu mengunyah permen itu perlahan-lahan, ayah hanya duduk diam di samping ibu dengan memegang tangannya. Ketika waktu kebersamaan mereka berakhir, ayah, dengan senyum lebar berkata, “Aku merasa begitu damai dan bersukacita menghabiskan waktuku bersamanya.”

Walaupun tersentuh oleh sukacita ayah yang besar dalam menolong ibu, saya lebih tersentuh oleh kenyataan bahwa ayah sedang mencerminkan kasih karunia Allah. Yesus rela merendahkan diri-Nya supaya dapat menjalin hubungan dengan kita dalam segala kelemahan kita. Ketika merenungkan tentang inkarnasi Kristus, Yohanes menulis, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Dengan mengenakan keterbatasan manusia, Yesus bertindak dalam belas kasihan yang tidak terhitung banyaknya untuk melayani kita yang lemah.

Apakah Anda mengenal seseorang yang memerlukan kasih Yesus yang rela menolong dan melayani, yang dapat mengalir melalui Anda kepadanya hari ini? —HDF

Kasih memberikan apa yang dibutuhkan dunia,
Kasih saling berbagi seturut pimpinan Roh,
Kasih memberikan perhatian ketika dunia menangis,
Kasih berbelaskasih kepada mereka yang Kristus kasihani. —Brandt
 
Untuk menjadi saluran berkat, perkenankan kasih Kristus mengalir melalui Anda.
 
Diambil dari RBC indonesia
 

Minggu, 08 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan berkomitmen padaNya

Bacaan Hari ini :
Roma 12:1 "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

 
Salah satu cara Anda dapat mengungkapkan kasih Anda untuk Tuhan adalah dengan berkomitmen kepada-Nya.
Inilah arti sebenarnya dari kasih: komitmen.
Anda tidak benar-benar mencintai seseorang kecuali jika Anda berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi mereka.

Tidak ada hal penting dalam hidup Anda yang terjadi tanpa komitmen.
Komitmen Anda menentukan masa depan Anda.
Jati diri Anda menjadi seperti komitmen Anda, jadi pilihlah komitmen Anda dengan hati-hati.
Jika Anda berkomitmen untuk hal yang salah, Anda akan menjadi hal yang salah.

Anda tidak akan pernah rugi dengan menjadi berkomitmen kepada Tuhan.
Alkitab memberitahu kita dalam 2 Tawarikh 16:9 bahwa Tuhan mencari orang-orang yang hatinya berkomitmen penuh kepada-Nya sehingga Ia dapat memberkati dan memakai orang-orang tersebut.


Apa artinya berkomitmen pada Tuhan?

- Memberikan hidup saya kepada Yesus Kristus.

- Berkomitmen kepada keluarga Tuhan -- tubuh Kristus, yaitu gereja -- dan bergabung dengan keluarga gereja.

- Memilih untuk bertumbuh secara rohani dan menjadi lebih dan lebih seperti Yesus Kristus dari hari ke hari dalam karakter saya.

- Menggunakan bakat saya dan karunia saya untuk membantu orang lain.

- Berbagi kabar baik dengan orang lain serta memenuhi misi dan tujuan yang diberikan Tuhan untuk saya lakukan di dunia.


Komitmen ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya sesuatu yang terjadi dalam empat sisi dinding gedung gereja.
Ibadah bisa terjadi di mana saja saat Anda "mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1)
 
Mengasihi Tuhan berarti Anda memberikan hidup Anda pada Tuhan dan berkomitmen pada Dia.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 07 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan menyatakan anda milikNYA

Bacaan Hari ini :
Roma 6:4 "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru"


Baptisan menyatakan tiga landasan teguh untuk menyatakan kepada publik bahwa Anda adalah milik Tuhan.

Alasan pertama bahwa Anda perlu dibaptis adalah dengan mengatakan, "Saya percaya dalam kematian dan kebangkitan Yesus."
Dengan gambaran bahwa melalui baptisan, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:4)

Kedua, baptisan merupakan gambaran tentang apa yang terjadi pada Anda: "karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan didalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati." (Kolose 2:12)
Ketika Anda dibaptis, Anda menyatakan bahwa, "Saya mati untuk semua dosa lama saya. Semuanya telah diampuni, dilupakan, dan telah keluar dari hidup saya. Sekarang, saya mulai hidup baru saya dalam Kristus."

Ketiga, melambangkan kehidupan baru yang Anda miliki dalam Yesus Kristus: "Dan semua yang telah menyatu dengan Kristus dalam baptisan, telah mengenakan Kristus, seperti memakai pakaian yang baru." (Galatia 3:27 NLT)

Ketika Anda dibaptis, Anda menyatakan bahwa, "Saya mati untuk semua dosa lama saya. Semuanya telah diampuni, dilupakan, dan telah keluar dari hidup saya. Sekarang saya mulai hidup baru saya dalam Kristus."


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 05 Mei 2011

Waktunya berdoa?


Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! —Mazmur 70:2

Di suatu pagi, ketika saya masih kanak-kanak, saya duduk di dapur dan melihat ibu saya menyiapkan sarapan. Tiba-tiba saja, minyak dalam wajan, tempat ia sedang menggoreng daging, tersambar api. Lidah-lidah api meletup ke udara dan ibu saya segera berlari ke lemari dapur mengambil sekantung tepung untuk dilemparkan ke api tersebut.
“Tolong!” teriak saya. Kemudian saya menambahkan, “Andai saja ini waktunya berdoa!” “Waktunya berdoa” telah menjadi ungkapan yang sering diucapkan di rumah kami, dan saya mengartikannya secara harfiah bahwa kami dapat berdoa hanya di waktu-waktu tertentu saja.
Tentu saja yang dimaksud dengan “waktu berdoa” adalah kapan saja—terlebih ketika kita sedang dalam krisis. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan kecemasan adalah waktu-waktu yang paling umum bagi kita untuk memanjatkan doa. Ketika kita mengalami keterpisahan, terabaikan, dan terputus dari segala kekuatan manusiawi yang kita punya, pada saat itulah kita terdorong secara alami untuk berdoa. Kita berseru sebagaimana Daud berseru, “Tolonglah aku, ya TUHAN” (Mzm. 70:2).
John Cassian, tokoh Kristen di abad ke-5, menulis kalimat ini: “Doa adalah seruan ketakutan dari seseorang yang melihat perangkap musuh, seruan seseorang yang dikepung siang dan malam, dan menyatakan bahwa ia tak akan dapat lepas kecuali Pelindungnya datang untuk menyelamatkannya.”
Kiranya ini menjadi doa kita yang sederhana dalam setiap krisis yang dihadapi dan di sepanjang hari kita: “Tuhan, tolong aku!” —DHR

Kapan pun kita menolong sesama,
Atau ketika kita menanggung beban berat,
Adalah waktunya berseru kepada Bapa kita,
Menjadi waktu yang tepat untuk berdoa. —Zimmerman
Tak ada tempat dan tak ada waktu dimana kita tak dapat berdoa.

(Diambil dari: rbcindonesia.org)

Rabu, 04 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan berbicara kepadaNya

 
Bacaan Hari ini :
Mazmur 116:1-2 "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya."

Salah satu cara untuk menyembah Tuhan adalah dengan berbicara kepada-Nya.

Ketika Anda benar-benar mencintai seseorang, Anda tidak hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang itu, Anda ingin berbicara dengan dia juga.
Pikirkan tentang dua remaja yang sedang jatuh cinta, mereka selalu berbicara di telepon sepanjang waktu.

Mereka bicara dan bicara dan bicara.
Mereka ingin mengenal satu sama lain.
Itulah cara Anda mengenal seseorang -- melalui komunikasi.
Jika pasangan Anda tidak pernah berbicara dengan Anda, Anda memiliki semua alasan untuk mulai bertanya-tanya, "Apakah dia mencintai saya?"

Dan itulah mengapa kita menunjukkan pada Tuhan bahwa kita mengasihi-Nya ketika kita berbicara kepada-Nya.
Apa yang Anda bicarakan kepada Allah selama Anda menyembah-Nya?
Apa pun akan Anda bicarakan dengan teman terbaik Anda: harapan Anda, ketakutan Anda, mimpi Anda, kecemasan Anda, hal-hal yang Anda banggakan, hal-hal yang membuat Anda malu, tujuan Anda, ambisi Anda, sakit hati Anda, setiap bagian dari kehidupan Anda.
Anda datang kepada Tuhan dan Anda berbicara pada Tuhan tentang apa saja dan segalanya.

Alkitab mengatakan, "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku.
Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." (Mazmur 116:1-2)
Jika Anda tidak merasa dekat dengan Tuhan, ada solusi yang sederhana untuk itu: mulai berbicara kepada-Nya!
Dia telah mengundang Anda untuk berbicara dengan Dia, Dia ingin berbicara dengan Anda.
Doa bukanlah seperti tugas yang harus Anda lakukan.
Doa adalah kehormatan yang bisa Anda lakukan.
Anda bisa berbicara dengan Pencipta alam semesta.

Anda mungkin berkata, "Saya ingin punya waktu doa lebih banyak dengan Tuhan. Saya ingin berbicara dengan Tuhan. Tapi saya selalu tidak punya waktu."
Lalu Anda menjadi terlalu sibuk...
Anda tidak akan pernah punya waktu, Anda harus menyediakan waktu untuk berdoa.
Jika kehidupan Kristen Anda telah menjadi rutin, membosankan, dan tanpa sukacita, segera bawa diri Anda pada Tuhan dan berbicara kepada-Nya.

Doa bukanlah rutinitas agamawi, doa adalah suatu kehormatan, ketika kita memiliki akses langsung untuk berbicara pada Tuhan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 03 Mei 2011

Tak pernah sendiri

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” —Ibrani 13:5

Karena pernah bermain dalam kejuaraan sepakbola antar universitas, kecintaan saya terhadap olahraga yang dijuluki ‘permainan indah’ itu tidak pernah pudar. Saya terutama sangat suka menonton pertandingan Liga Utama Inggris. Salah satu alasannya adalah karena keahlian dan kecepatan yang ditampil-kan pada setiap pertandingan yang dimainkan. Saya juga suka bagaimana para penggemar bernyanyi untuk menyemangati tim kesayangan mereka. Liverpool, contohnya, telah bertahun-tahun memakai lagu tema You’ll Never Walk Alone (Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri). Betapa mengharukan mendengar 50.000 penggemar menyatukan suara untuk menyanyikan bait demi bait dari lagu kuno itu! Sungguh suatu penggugah semangat baik bagi pemain maupun penggemar ketika bersama mereka berjanji akan saling mendukung sampai akhir. Takkan pernah berjalan sendiri.

Perasaan ini juga berarti bagi setiap orang. Karena setiap dari kita diciptakan untuk hidup bersama, keterasingan dan kesendirian adalah bagian dari pengalaman manusia yang paling menyakitkan. Di masa-masa menyakitkan ini, iman berperan penting.
Seorang anak Tuhan tidak perlu merasa takut diterlantarkan. Bahkan ketika orang berpaling dari kita, teman-teman melupakan kita, atau keadaan memisahkan kita dari orang yang kita kasihi, kita tak pernah sendiri. Allah telah berkata “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Ini bukan sekadar lagu indah ataupun lirik cerdas tanpa makna. Ini adalah janji dari Allah sendiri bagi mereka yang menjadi objek kasih-Nya. Dia selalu ada—dan Dia tidak akan kemana-mana.
Bersama Kristus, Anda takkan pernah berjalan sendiri. —WEC

Kehadiran Allah yang tak terlihat, menenteramkanku,
Kutahu Dia selalu dekat denganku;
Dan ketika badai kehidupan melanda jiwaku,
Dia berkata, “Janganlah takut, anakku.” —D. De Haan


Kehadiran Allah bersama kita adalah salah satu dari anugerah-Nya yang luar biasa bagi kita.

(Diambil dari: rbcindonesia.org)

Senin, 02 Mei 2011

Terus pegang Janji-Nya

Bacaan Hari ini :
Filipi 3:13 "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku"


Suatu hari, saya merenungkan apa yang Paulus katakan dalam Filipi 3:13.
Pada dasarnya dia berkata, "Anda tahu, saya tidak sempurna. Saya belum mencapai semuanya. Tapi satu hal yang saya lakukan -- saya terus bergerak maju.."
Dan kemudian dia memberitahu kita apa yang dia lakukan untuk bergerak maju, yaitu dia meninggalkan masa lalunya.
Dengan kata lain, dia tidak mengidentifikasi masa lalu, sebaliknya dia mengidentifikasi Firman Tuhan, dia mengidentifikasi masa depannya.

Ini tidak selalu mudah.
Bahkan, ini adalah sebuah perjuangan.
Tapi Anda tahu, bahwa Anda menang selama Anda terus berjuang!
Kita harus tinggal dalam pertandingan jika kita mau menang!
Musuh akan berusaha sepanjang hari untuk membawa Anda keluar dengan mengingatkan Anda tentang apa yang terjadi di masa lalu Anda.
Dia akan mengingatkan Anda setiap kali Anda melakukan kesalahan atau sedang terjebak dalam masalah.
Dia akan menyerang keras di medan perang pikiran Anda.
Tapi apakah Anda tahu cara melawan pikiran-pikiran negatif ketika mereka datang?
Dengan memperkatakan kebenaran Firman Tuhan keluar dari mulut Anda.
Faktanya, Anda tidak dapat berbicara satu hal dan berpikir tentang sesuatu yang berbeda.
Pikiran Anda harus mengikuti kata-kata Anda.
Itu sebabnya Matius 6:31 berkata, "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?"
Karena ketika Anda mengatakan sesuatu, Anda memegangnya dalam hati Anda.
Jika Anda mengucapkan kata-kata khawatir, Anda akan memegang kekhawatiran.
Jika Anda berbicara tentang janji-janji Allah, Anda memegang janji-janji Allah.

Hari ini, saya mendorong Anda untuk berpegang pada hal-hal baik yang Tuhan siapkan untuk masa depan Anda.
Seperti Paulus, hanya ada satu hal yang perlu Anda fokuskan, fokus pada bergerak maju.
Fokus pada memperkatakan Firman Tuhan atas diri sendiri dan keluarga Anda setiap hari.
Peganglah kebenaran dan ikatkan pada hati Anda.
Biarkan Firman-Nya memelihara dan menyegarkan jiwa Anda.
Ketika Anda menetapkan untuk fokus ke depan, Anda akan bergerak maju.
Anda akan memegang janji-Nya dan mengalami sukacita yang telah Dia tetapkan untuk Anda alami dalam hidup Anda!

Apapun yang terjadi dalam hidup Anda, tetap berpegang pada janji Tuhan dan terus bergerak maju di dalam Tuhan.

(Diterjemahkan dari Hope for Today by Victoria Osteen)

Minggu, 01 Mei 2011

Menciptakan Peluang


Kejadian 45:5
“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku kesini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120; 1 Korintus 9; 1 Samuel 5-7

Menurut Diana Kirschner, Ph.D., psikolog dan ahli komunikasi, rasa cemburu adalah suatu bentuk pemikiran negatif yang datang dari dalam sendiri. Melalui penelitian, terbukti bahwa rasa cemburu bisa menimbulkan ketegangan dan depresi. Sebagaimana diketahui, rasa cemburu bisa berujung pada sakit hati, curiga, ledakan amarah, bahkan kemunduran kualitas dalam berhubungan. Tapi, mungkinkah rasa cemburu diubah menjadi sesuatu yang positif? Inilah salah satu caranya.

Ketika rasa cemburu mulai merayapi pikiran, sadari bahwa hal itu merupakan tanda betapa Anda sangat menyayangi pasangan. Daripada melelahkan diri dengan pikiran-pikiran negatif, cobalah untuk mendekati pasangan Anda dan katakan betapa sayangnya Anda kepadanya.

Di kehidupan ini kadang kita tidak tidak bisa memilih. Suka atau tidak, kita harus belajar untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Kenyataan di depan kita adalah fakta tak terbantahkan dan kita tidak memiliki alternatif lain. Jika hal seperti ini terjadi, bagaimana tindakan selanjutnya? Apakah kita harus marah dengan situasi yang ada? Marilah kita belajar dari kehidupan tokoh Alkitab Perjanjian Lama bernama Yusuf.

Yusuf adalah pemuda yang harus kehilangan kemerdekaan dan harkat sebagai orang merdeka karena dijual para saudaranya yang iri kepadanya. Berbagai pengalaman berat setelah itu pun harus ia alami. Namun, Yusuf tidak sudi menyerah. Dengan pertolongan Allah, ia berhasil mengubah semua rintangan di jalan kehidupannya sebagai kesempatan. Dalam beberapa tahun, ia akhirnya diangkat oleh Firaun sebagai penguasa kedua di Mesir.

Belajar dari kehidupan Yusuf diatas, marilah kita menjawab tantangan sepanjang hari ini. Ubahlah paradigma tentang ketakutan terhadap tantangan menjadi kesempatan untuk meraih keberhasilan. Allah yang ada di dalam diri kita sanggup melakukan segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Pengenalan diri yang diselaraskan dengan Firman Tuhan akan membuahkan keberhasilan sejati.
 
(Diambil dari:Renunganhariankita.blogspot.com)

Sabtu, 30 April 2011

Kualitas yang paling penting

Bacaan Hari ini :
1 Samuel 16 : 6-7 "Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: 'Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.' Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: 'Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.'"

Dalam 1 Samuel 16:6-7, ketika Samuel datang ke rumah Isai untuk mengurapi raja Israel berikutnya, kita melihat kriteria yang digunakan Tuhan dalam memilih orang-orang untuk dipakai dalam pekerjaan-Nya.

Ini adalah kisah menarik dengan pelajaran yang sangat kuat yang perlu Anda mengerti.
Tepat setelah ayat-ayat ini, Isai memanggil satu persatu anak-anaknya yang lain untuk dibawa ke hadapan Samuel... kecuali Daud. Isai tahu mengapa Samuel ada di sana, tetapi dia bahkan tidak repot-repot untuk memanggil Daud.

Ayah Daud sendiri justru mengabaikan dia. Ayahnya sendiri tidak melihat Daud memiliki cukup potensi dalam dirinya untuk dibawa menghadap Samuel.Tapi Daud diurapi menjadi Raja hari itu. Tidak didasarkan pada apa yang Isai pikir sebagai hal penting, namun pada apa yang Tuhan pikir sebagai hal penting... hati Daud.

Mungkin ayahmu sendiri telah mengabaikan Anda. Mungkin orang tua Anda mengatakan bahwa Anda tidak akan pernah berarti apa-apa. Mungkin guru Anda berkata, "Lihat, kamu tidak akan banyak berarti. Lebih baik puaskan dirimu dengan pekerjaan berupah minimum..."

Hanya Allah yang dapat melihat hal-hal dalam hati Anda, yang orang tua Anda tidak bisa melihat, yang guru Anda tidak lihat, yang keluarga Anda tidak lihat, yang orang-orang di sekitar Anda tidak lihat.

Ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak menganggap penting kemampuan atau bakat atau training.
Semua hal-hal itu penting. Tetapi yang pertama Tuhan lihat adalah kualitas yang paling penting dan itu adalah hati.

Jangan biarkan orang lain menulis sejarah hidup Anda sebelum hal itu terjadi.
Orang lain mungkin tidak dapat melihat, tapi Tuhan melihat.
Kualitas paling penting yang dilihat oleh Tuhan adalah hati Anda.



(Diterjemahkan dari Answers for Each Day by Bayless Conley)

Jumat, 29 April 2011

SUKSES TETAPI KASIHAN




Bacaan : Markus 10:17-30

Nats: ... ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya (Markus 10:22)

Sungguh pemuda sukses yang hebat! Ia masih belia, tetapi sudah menjadi pemimpin dan kaya raya (bandingkan Matius 19:20-22 dengan Lukas 18:18). Tak hanya kaya materi, tetapi juga secara "rohani". Sejak muda ia dididik mendalami Hukum Taurat dan menjalankannya (ayat 20). Ia dikagumi di lingkungan komunitas Yahudi saat itu. Ia juga dipandang berbakti kepada orangtua, sebab ia menghormati ayah-ibunya sejak belia dan tetap menghormatinya meski sudah sukses. Siapa tak bangga punya anak seperti ini?

Dengan kerinduan dan semangat, ia berlutut di hadapan Yesus rabi muda yang menyedot massa karena kharisma dan kuasa-Nya dalam berkhotbah dan mengadakan tanda ilahi. Ia mohon petunjuk Yesus; apa lagi yang perlu diperbuat agar layak masuk ke Kerajaan Allah. Dalam berelasi dengan sesama, ia patut diacungi jempol. Dalam berbuat baik, ia hebat. Namun, ada satu yang kurang, dan hanya Yesus yang tahu: bahwa kekayaan materi, martabat sosial, dan "kekayaan rohani" yang ia punya menjadi ilah yang diandalkan sebagai "tiket" ke surga menggantikan Allah. Maka, ia diminta menjual semua, membagikannya ke orang miskin, dan mengikut Yesus, sebagai bukti bahwa ia diselamatkan hanya oleh belas kasihan Allah. Betulkah ia merasa perlu petunjuk Yesus? Tidak! Sebab ia kecewa dan mengabaikan tawaran sejati untuk memasuki Kerajaan Allah. Alasan utamanya karena "banyak hartanya" (ayat 22).

Pemuda "sehebat" ini ternyata tak layak masuk Kerajaan Allah. Bagaimana dengan Anda? Beranikah Anda meletakkan seluruh kebanggaan Anda sebagai manusia, lalu datang kepada Allah sebagai orang yang miskin dan haus akan kebenaran? --SST

SEGALA KEHEBATAN MANUSIA TAK MEMBAWA KE SURGA
SUNGGUH HANYA KEMURAHAN YESUS YANG MEMBAWA KITA KE SANA
_____________________________________
Markus 10:17-30
17  Pada waktu Yesus berangkat untuk meneruskan perjalanan-Nya,  datanglah seorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil  bertelut di hadapan-Nya ia bertanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
18  Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang  baik selain dari pada Allah saja.
19  Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!"
20  Lalu kata orang itu kepada-Nya: "Guru, semuanya itu telah  kuturuti sejak masa mudaku."
21  Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu  berkata kepadanya: "Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang  miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
22  Mendengar perkataan itu ia menjadi kecewa, lalu pergi dengan  sedih, sebab banyak hartanya.
23  Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan  berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah."
24  Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi  Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah.
25  Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang  kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
26  Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: "Jika  demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
27  Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak  mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu  adalah mungkin bagi Allah."
28  Berkatalah Petrus kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan  segala sesuatu dan mengikut Engkau!"
29  Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang  yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya,   saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya,
30  orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali  seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan,  dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.

From: SKK Bidang Doa & Pendalaman Iman 

Kamis, 28 April 2011

Taat dan Temukan Jalan Keluar

Bacaan Hari ini :
Yohanes 5:8 "Kata Yesus kepadanya: 'Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.'"


Kata-kata Yesus diatas diucapkan kepada orang yang telah sakit selama 38 tahun!
Selama ini tempat tidurnya telah membawanya kemanapun dia pergi, sekarang Yesus menyuruhnya untuk mengangkut tempat tidurnya!

Ada dua cara jika Anda ingin terlepas dari segala persoalan Anda.
Pertama, Anda harus benar-benar punya keinginan untuk bebas dan yang kedua, kita harus berhenti menyalahkan orang lain atas masalah yang kita hadapi.

Cara terakhir dapat Anda temukan dalam ayat di atas yaitu dengan mentaati apa yang Tuhan katakan pada Anda, baik hal itu masuk akal ataupun tidak!

Untuk seorang pria yang telah berbaring di tempat tidurnya selama 38 tahun, bangkit dan harus mengangkut tempat tidurnya sendiri itu sepertinya mustahil!
Tapi saat ia mulai untuk taat, hidup baru dan kekuatan mulai mengalir ke tubuhnya yang sebelumnya lumpuh.

Dengarkan perintah Tuhan di dalam hati Anda.
Tidak ada iman tanpa tindakan nyata.
Allah akan melakukan sesuatu untuk menguji Anda dalam mengekspresikan iman Anda dalam suatu tindakan nyata.

Apakah perintah-Nya masuk akal bagi Anda atau mungkin tidak.
Tapi mengutip kata Maria, ibu Yesus, "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yohanes 2:5)

Banyak orang masih terjebak dalam masalah mereka.
Bukan karena Tuhan tidak berfirman kepada mereka, tetapi karena Tuhan telah berfirman dan mereka tidak mendengarkan.
__________________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
1 Raja-raja 3-5; Lukas 20:1-26
__________________________________________

Jika masih ada ketidaktaatan dalam hidup Anda, bergegaslah dan lakukan apa yang telah Tuhan katakan pada Anda. Ini adalah satu-satunya cara untuk menemukan jalan keluar.
 
(Diterjemahkan dari Answers for Each Day by Bayless Conley)

Rabu, 27 April 2011

Tentang Menghakimi

Matius 7:1
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi”


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 117; 1 Korintus 5; Rut 1-2

Seorang pria muda yang sudah menikah mulai kembali kepada kebiasaan lamanya yaitu suka dengan hal-hal yang berbau pornografi, ia pun pergi ke sebuah tempat dimana hal-hal seperti itu dapat ia temukan. Ketika orangtuanya mengetahui hal ini, mereka menegurnya dengan lembut dan bijak.

Mendapat nasihat dari ayah dan ibunya, sang anak bukannya menerima tetapi malah marah-marah kepada mereka. Ia menilai orangtuanya suka menghakimi. Dengan hati yang remuk mereka hanya bisa diam. Mereka menangis karena buah hati mereka tidak mendengarkan apa yang mereka katakan. Dan benar, tidak dalam hitungan satu tahun, hidup putranya akhirnya hancur – ia dan sang istri bercerai, lalu dirinya terkena PHK, usaha yang dibangun selama ini pun harus gulung tikar karena selalu mengalami kerugian.

Banyak orang pada masa sekarang akan mengatakan bahwa orangtua, kakak, pembimbing rohani, bahkan gembala sidang tidak berhak untuk menegur bahwa mereka salah. Mereka bahkan dengan berani mengutip kata-kata Yesus, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Matius 7:1).

Namun, Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa setiap kita bertanggung jawab dengan rendah hati menegur sesama orang percaya ketika kita melihatnya berbuat dosa (Galatia 6:1,2). Jadi, Orangtua, kakak, pembimbing rohani, gembala sidang sebenarnya sedang melakukan tanggung jawabnya ketika menasihati kita.

Tuhan Yesus tidak mengatakan kita tidak boleh menentang dosa. Dia mengatakan kita harus hati-hati dalam menghakimi. Paulus menulis bahwa kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (I Korintus 13:5). Kita harus menerapkan prinsip praduga tak bersalah dan mengenali keterbatasan diri kita sendiri. Dan kita harus menolak perasaan superioritas rohani apapun. Kalau tidak, kita juga akan jatuh ke dalam dosa.

Menegur orang lain merupakan tanggung jawab yang serius. Oleh karenanya,lakukan dengan hati-hati dan waspadalah selalu agar jangan apa yang Anda lakukan berubah menjadi penghakiman.

Menyadari bahwa kita memiliki banyak kelemahan dapat mengerem perkataan-perkataan kita ke orang lain yang sifatnya menghakimi. 

Sumber: Kingdom Magazine November 2009

Selasa, 26 April 2011

Sulit Dibayangkan


Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik. —Filipi 1:23



Setiap kali saya dan istri saya, Martie bersiap-siap untuk pergi berlibur, kami suka membaca tentang tempat tujuan kami, mempelajari petanya, dan membayangkan sukacita yang dirasakan ketika akhirnya kami tiba di tempat yang telah kami impikan sekian lama.

Bagi kita yang mengenal Yesus Kristus, kita memiliki satu tempat tujuan yang luar biasa yang menanti kita, yaitu surga. Namun, yang menarik bagi saya adalah kebanyakan kita tidak terlihat begitu bersemangat untuk menuju ke sana. Mengapa demikian? Mungkin ini disebabkan karena kita tidak benar-benar memahami apa itu surga. Kita suka menyebut tentang jalan dari emas dan gerbang mutiara, tetapi seperti apa sebenarnya itu? Apa yang sebenarnya bisa kita harapkan?

Menurut saya penjelasan yang paling mendalam tentang surga dapat ditemukan dalam perkataan Paulus kepada jemaat di Filipi. Ia berkata bahwa “pergi dan diam bersama-sama Kristus” adalah “jauh lebih baik” (Flp. 1:23). Itulah yang saya katakan kepada cucu saya yang berumur 8 tahun ketika ia bertanya seperti apakah surga itu. Saya mulai dengan bertanya padanya, “Hal apa yang paling menyenangkan dalam hidupmu?” Ia menyebut soal permainan komputer dan hal-hal menyenangkan lain yang suka dilakukannya, dan saya berkata padanya bahwa surga jauh lebih baik dari semua itu. Ia berpikir sejenak, lalu berkata, “Kakek, itu sulit dibayangkan.”

Apakah yang Anda nanti-nantikan dalam hidup Anda? Hal apa yang membuat Anda bersemangat? Apa pun itu, meskipun sulit dibayangkan, surga tetap jauh lebih baik! —JMS

Berada dalam hadirat-Nya! Bayangan yang indah
Sungguh menakjubkan, tak bisa kupahami;
Akan kubersujud dan menyembah Tuhan di takhta-Nya
Dan menaikan pujian yang patut diterima-Nya. —Sper


Semakin Anda mengharapkan surga, semakin enggan Anda menginginkan dunia.


From: rbcindonesia

Senin, 25 April 2011

Tuhan selalu punya cara


Mazmur 105:40-41
“Mereka meminta, maka didatangkan-Nya burung puyuh, dan dengan roti dari langit dikenyangkan-Nya mereka. Dibuka-Nya gunung batu, maka terpancarlah air, lalu mengalir di padang-padang kering seperti sungai;”




Saya sampai sekarang masih terkagum-kagum dengan peristiwa dimana Tuhan memelihara bangsa Israel di padang gurun selama 40 tahun. Menurut saya, sehebat atau secerdas apapun orang di dunia saat itu sepertinya tidak akan bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Tuhan.

Alkitab mencatat bahwa selama masa berputar-putar, orang Israel tidak pernah kekurangan makan atau kehausan. Kebutuhan hidup mereka selalu terpenuhi. Bahkan tiang awan dan tiang api disediakan-Nya agar mereka tidak kepanasan ketika tengah hari atau kedinginan di malam hari. Dan menariknya, kisah dimana bagaiman Tuhan memelihara umat-Nya terus berlanjut di pasal-pasal selanjutnya bahkan hingga sekarang ini.

Tuhan tidak pernah kehabisan metode untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya. Dia bisa menggunakan sebuah peristiwa, sekitar kita, atau manusia sendiri untuk menjaga kita di bumi ini. Tetap terpelihara adalah janji-Nya bagi Anda dan saya dan Dia takkan membiarkan apapun atau siapapun menghalangi hal tersebut.

Jadi, bila saat ada diantara Anda yang merasa seorang diri atau sedang dalam permasalahan yang berat, mari berdoalah kepada Tuhan. Mintalah pertolongan-Nya dan jalan keluar kepada-Nya. Percayalah, Dia selalu punya cara untuk membuat Anda bersukacita dan terjaga di bumi ini.

Tuhan punya ribuan cara agar umat-Nya tetap terpelihara di bumi. 

(diambil dari :Renunganharian.com)

Minggu, 24 April 2011

Rendah Diri

1 Samuel 17:32-37
TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu. —1 Samuel 17:37



Uang logam Rp. 50,- bisa dibilang adalah nilai mata uang yang paling diremehkan. Banyak orang tidak mau lagi memungut uang logam Rp. 50,- jika mereka melihatnya jatuh di tanah. Namun, sejumlah yayasan sosial melihat bahwa kepingan uang logam ini bisa berdampak besar, jika ada dalam jumlah banyak, dan bahwa anak-anak dapat memberikannya dengan mudah. Seorang peserta berkata, “Meskipun kecil, pemberian itu bisa memberikan pengaruh yang besar.”

Cerita Alkitab tentang Daud dan Goliat menggambarkan seorang pemuda yang tidak terlalu dianggap, tetapi yang memiliki keyakinan yang kuat di dalam Allah, lebih besar daripada keyakinan para penguasa di sekitarnya. Ketika Daud menawarkan diri untuk menghadapi raksasa Goliat, Raja Saul berkata, “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu” (1 Sam. 17:33). Meskipun demikian, Daud memiliki iman dalam Tuhan yang telah menyelamatkannya di masa lalu (ay.37).

Daud tidak merasa rendah diri dan tidak berdaya ketika dirinya diperhadapkan pada masalah berat. Jika Daud terpengaruh oleh ungkapan pesimis yang diucapkan Saul atau oleh ancaman Goliat, ia tidak akan melakukan apa pun. Alih-alih, ia bertindak dengan penuh keberanian karena ia percaya kepada Allah.

Memang mudah untuk merasa begitu kecil di tengah masalah besar yang menggunung. Namun, saat kita menaati Tuhan dalam segala keadaan, segala sesuatunya akan diperhitungkan. Jika dijumlahkan, semua tindakan iman yang kita lakukan, baik besar maupun kecil, akan memberikan pengaruh yang besar. Bahkan uang logam sekecil Rp. 50,- pun tetap punya nilai. —DCM

Tak peduli seberapa besar atau kecil
Iman yang kau mungkin miliki;
Yang terpenting adalah siapa yang kau percaya
Dalam ketidakpastian kehidupan. —Fitzhugh


Keberanian muncul ketika kita berjalan dalam iman.
 (diambil dari : www.rbcindonesia.org)

Sabtu, 23 April 2011

Ia Telah Bangkit

Matius 16:6
Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.


Paskah adalah hari yang istimewa bagi dunia Kekristenan karena di hari tersebut  sebuah pesan penting disampaikan Kristus kepada manusia. Pesan tersebut bukan Dia sampaikan melalui perkataan, tetapi perbuatan.

Kebangkitan-Nya pada hari ketiga memberitahu kepada kita bahwa Dialah Mesias Sejati, satu-satunya jalan keselamatan bagi umat manusia. Semua perbuatan baik yang dilakukan manusia untuk sampai ke Sorga adalah sia-sia, apabila tidak ada Kristus di dalam hati orang tersebut.

Kebangkitan-Nya juga menyatakan kepada kita bahwa Dia telah mengalahkan maut. Segala sakit penyakit, kutuk-kutuk kini telah berada di bawah kaki-Nya. Kesembuhan dan kemerdekaan menjadi milik mereka yang beriman kepada-Nya.

Terakhir, kebangkitan Kristus memberi pesan bahwa ada harapan bagi manusia untuk hidup dalam kekekalan bersama dengan Allah. Kehidupan yang telah dicari manusia sejak zaman dahulu kala.

Apa makna Paskah bagi Anda? Seharusnya itu bermakna segalanya, karena Kristus telah melepaskan Anda dari segala belenggu dosa dan memberi kunci masuk ke kerajaan-Nya yang abadi.

Karena kebangkitan Kristus, kehidupan kita menjadi berubah dan tidak akan pernah sama lagi.

Sumber: Hope for Each Day; Billy Graham; Penerbit Metanoia (Renunganharian.net)

Jumat, 22 April 2011

Kasih Yang Menempuh Jarak Jauh

" Dia yang tidak mengenal dosa dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Korintus 5:21).


Tanggal 31 Desember 1995, John Clancy, seorang veteran pemadam kebakaran New York City, memimpin timnya ke apartemen kosong yang terbakar di wilayah narkoba Manhattan bagian bawah. Ketika api berkobar di luar kendali para pemadam kebakaran, khawatir jangan-jangan seseorang masih ada di dalam bangunan-meskipun orang-orang yang menghuninya hanyalah orang-orang tunawisma, pecandu obat, pecandu alkohol, dan pelacur-maka Clancy dan rekan rekannya memutuskan memasuki neraka itu melakukan pencarian dan penyelamatan. Asap membuat pandangan hampir tak kelihatan.

Tiba-tiba atap lantai kedua runtuh, menjebak Clancy. Para rekannya berusaha sekuat tenaga melepaskan dia, namun ketika mereka akhirnya menarik dia keluar, sudah terlambat. Tubuhnya terbakar tanpa bisa dikenal. Hari terakhir tahun 1995 itu adalah hari terakhir kehidupan pemadam kebakaran yang berani ini. Ia meninggalkan seorang istri yang sedang hamil enam bulan dan masa depan yang mereka rencanakan bersama.. John Clancy percaya bahwa semua kehidupan itu berharga, dan bersedia membahayakan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan siapa saja yang ada dalam bangunan itu. Ia meninggalkan rumahnya sendiri yang aman menuju bahaya api yang mengamuk. Ia memasuki bara api untuk menyelamatkan kehidupan dan kehilangan nyawanya sendiri. Pengabdiannya pada tugas telah dibayar denga nyawanya. Ia tidak bisa tinggal diam saat ia mengetahui orang lain dalam bahaya.

Para penyelidik menemukan bahwa kebakaran itu sengaja dilakukan. Edwin Smith salah seorang "yang terpinggirkan" yang dilaporkan berada dalam bangunan, yang membakarnya. John Clancy sedang menyelamatkan orang yang membakar bangunan itu. Ia memberikan nyawanya untuk seorang penyulut api.

Dua ribu tahun yang lalu, Seorang yang lain berjalan menuju api kematian itu sendiri untuk menyelamatkan kita. Ia membebaskan kita dari api neraka yang menyala-nyala. Ketika Kristus mati, Ia dengan rela menerima kutukan kematian di atas diri-Nya sendiri. Ayat hari ini menyatakan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Yesus tidak pernah berdosa, tetapi Ia jadi berdosa karena kita. Ia dengan rela menerima semua rasa malu dan kesalahan pada diri-Nya sendiri untuk dosa-dosa kita.

Ia menjalani kematian yang pantas kita terima agar kita bisa menjalani kehidupan yang sepatutnya bagi Dia. Ketika Yesus menjalani penderitaan yang menyiksa di salib Ia merasakan perpisahan dari Bapa-Nya. Dalam kata-kata "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46), Yesus mengekspresikan perasaan kehilangan-Nya itu. Juruselamat kita mengalami kematian untuk orang-orang yang berdosa.

Kasih Yesus menempuh perjalanan jauh. Ia mengalami penderitaan neraka itu untuk menyelamatkan kita. Dalam terang kasih-Nya itu, yang bisa kita lakukan adalah jatuh di kaki-Nya dan menyembah selamanya. Ia layak mendapatkan pujian kita yang tertinggi. 

(Diambil dari buku :Tidak tergoyahkan, karangan Mark Finley, hlm 28)

 

Kamis, 21 April 2011

Kita Diterima Oleh Tuhan

Bacaan Hari ini :

Roma 4:25 (BIS) "Yesus itu sudah diserahkan untuk dibunuh karena dosa-dosa kita; lalu Ia dihidupkan kembali oleh Allah untuk memungkinkan kita berbaik kembali dengan Allah."


Kematian dan kebangkitan Yesus membuat kita dapat diterima oleh Tuhan.

Apakah Anda akan terkejut mengetahui bahwa kebanyakan orang tidak menerima dirinya sendiri?
Saya sudah menjadi pendeta selama lebih dari 30 tahun, saya sudah bicara dengan puluhan ribu orang, dan saya telah menemukan bahwa kebanyakan orang benar-benar tidak menyukai diri mereka sendiri.
Mereka berharap mereka bukanlah seperti diri mereka sendiri.
Mereka berharap mereka tampak berbeda.
Mereka berharap mereka bertindak berbeda.

Kita tidak menerima diri kita, dan kita menghabiskan hidup kita mencoba untuk mencari penerimaan dari orang-orang lain, tetapi yang jauh lebih penting daripada diterima oleh orang lain adalah diterima oleh Allah.
Ini adalah masalah.
Mengapa?
Karena Allah adalah sempurna dan Anda tidak.
Dan begitu juga saya tidak sempurna.

Tuhan tinggal di tempat yang sempurna yang disebut surga.
Sehingga Tuhan memiliki masalah, bagaimana Dia membuat orang yang tidak sempurna dapat masuk ke tempat yang sempurna di mana Dia sendiri adalah sempurna?
(Karena jelas, jika Dia membiarkan orang yang tidak sempurna berada di tempat yang sempurna, tempat itu tidak akan menjadi sempurna lagi.)
Tuhan harus memiliki rencana untuk membuat orang yang tidak sempurna dapat tinggal di tempat yang sempurna.

Rencana Tuhan adalah apa yang saya sebut sebagai "Pertukaran Besar".

Alkitab mengatakan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." (2 Korintus 5:21)

Saya rasa ini dapat membuatnya lebih jelas: Anda tidak akan pernah menjadi cukup baik untuk dapat masuk ke surga karena surga itu sempurna dan Anda tidak akan pernah bisa menjadi sempurna.
Ini adalah kebaikan Kristus di dalam Anda yang membuat Anda diterima.
Anda tidak sempurna, tetapi Dia sempurna.
Jadi Tuhan berkata, "Kami akan melakukan pertukaran di sini. Yesus akan menanggung dosa-dosa kamu dan kamu mendapatkan kebaikan-Ku dalam hidupmu."

Banyak orang merasa terjebak oleh masa lalu mereka.
Mereka mengatakan, "Jika Anda tahu apa yang telah saya lakukan, Anda akan tahu bahwa saya tidak akan diterima Tuhan."
Saya tidak tahu apa yang telah Anda lakukan, tapi Tuhan menerima Anda: "bahwa Allah memungkinkan manusia berbaik dengan Dia, hanya kalau manusia percaya kepada Yesus Kristus. Allah berbuat ini untuk semua orang yang percaya kepada Kristus; sebab tidak ada perbedaannya." (Roma 3:22 BIS)

Tidak peduli siapa kita atau apa yang telah kita lakukan!
Kita semua bisa diselamatkan.
Dia membuat kita berkenan kepada Tuhan.

Kristus telah menanggung dosa-dosa kita, sehingga kita yang percaya kepada-Nya dapat diterima oleh Tuhan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)