Minggu, 29 Mei 2011

Menguatkan Iman Anda

Bacaan Hari ini :
Roma 10:17 "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."

__________________________________________

Untuk memahami ayat ini sepenuhnya, Anda perlu tahu bahwa jika Anda diselamatkan, iman telah disimpan di dalam hati Anda.
Ini adalah bagian dari DNA rohani Anda.
Roma 12:3 mengatakan bahwa, Allah telah membagikan kepada masing-masing orang sebuah ukuran iman.
Iman adalah sesuatu yang Dia sudah diberikan sejak awal Anda menerima keselamatan.

Namun, terserah kepada Anda untuk mengembangkan iman itu.
Terserah kepada Anda untuk melakukan sesuatu dengan iman yang Anda miliki.
Bagaimana Anda mengembangkannya?
Anda dapat mengembangkan iman pertama dan terutama dengan mendengarkan Firman Tuhan.

Alkitab -- Firman Tuhan -- adalah makanan bagi iman.
Saat Anda mengkonsumsi Firman Tuhan, iman Anda akan diperkuat.

Anda pasti pernah melihat para body builder, pria dan wanita yang terus-menerus membangun kebugaran dan bentuk tubuh.
Nah, jika Anda berbicara dengan para body builder yang serius membangun kebugaran tubuh, salah satu hal pertama yang akan mereka katakan adalah program diet.
Anda harus mengkonsumsi makanan yang tepat jika Anda mau membangun otot.
Biasanya, diet yang mereka lakukan adalah diet kaya protein.

Mereka rajin mengkonsumsi minuman protein dan makan sandwich ikan tuna, yang ketika dikonsumsi dan dicerna, akan menjadi bahan baku yang membangun kekuatan dan bentuk otot.

Ketika Anda makan dan mencerna Firman Tuhan, kebenaran menjadi bahan baku yang akan membangun iman Anda.
Ini adalah makanan iman.

Kebanyakan orang mengalami kesulitan untuk membangun iman mereka karena mereka makan atau mengkonsumsi hal-hal yang salah.
Iman akan terbangun secara otomatis ketika Anda mengkonsumsi Firman Allah.
Jadi hari ini, jika Anda merasa seperti Anda sedang berjuang dalam iman Anda, maka lakukan perubahan pada makanan Anda.
Mulai banyak mengkonsumsi Firman Tuhan!


Iman sudah diberikan oleh Tuhan ketika kita diselamatkan, namun adalah terserah pada kita untuk membangun dan mengembangkan iman yang kita miliki.


(Diterjemahkan dari Answers for Each Day by Bayless Conley)

Sabtu, 28 Mei 2011

Jangan Hanya Duduk Diam

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” 2 Petrus 3:9

Ketika dipenuhi dengan Roh Kudus, kita akan selalu merasakan kesukacitaan menghadapi segala pergumulan yang kita hadapi, seberapa beratpun pergumulan itu.  Tuhan berfirman bahwa: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya” I Kor 10 : 13. Ini kita akan dapat hadapi dengan penuh kepercayaan diri.  Tentunya kepercayaan diri kita ini bisa dibagikan kepada orang lain untuk saling menguatkan satu sama lain. misalnya ketika kita menghadapi permasalahan di rumah tangga kita.  Jika kita dengan kemarahan kita untuk saling menyerang masing-masing, maka pada saat itu kita tidak akan mendapatkan suatu jalan keluar yang terbaik dengan emosi yang masih meluap luap.  Kita tidak akan mendapatkan kasih setia Tuhan bagi keluarga kita, bahkan mungkin juga disaat seperti itu kita bisa lupa kalau kita ini adalah Keluarga Allah.  Kita akan menjadi lupa kalau kita sebagai keluarga Allah sering dipantau oleh tetangga kita, yang mungkin akan membuat pekabaran Injil dilingkungan kita akan sangat menjadi terpengaruh.  Bahkan mungkin tanpa kita sadari ada keluarga lain yang melihat kehidupan kita dan ingin mempelajari Iman kepercayaan kita, akan akan menjadi kendor, jika kita tidak bisa membawa berkat bagi lingkungan sekitar kita.

Maka jika kita bisa melewati masalah ini dengan tuntunan dari pada Tuhan Yesus, maka tentunya ada kerinduan bagi kita untuk membagi kemenangan Iman kita dengan sesama kita yang mengalami hal yang hampir sama dengan yang telah kita alami.  Dan ingat !!! berkat-berkat Allah akan melimpahi keluarga kita jika kita selalu menempatkan Yesus sebagai yang pertama dan terutama dalam hidup ini.  Ketika Roh Allah menguasai hati, hal itu mengubah hidup.

”Pikiran pikiran yang membawa dosa akan dijauhkan dan perbuatan perbuatan jahat ditinggalkan di mana cinta, kerendahan hati dan kedamaian akan menggantikan amarah, iri hati dan percekcokan,  kegembiraan menggantikan kesedihan, dan raut wajah memantulkan cahaya surgawi” Desire of Ages pp 173.

Berkat Tuhan dalam rumah tangga kita akan lebih menggembirakan lagi jika kita semuanya juga turut serta dalam pekerjaan Allah. ”Mereka yang tidak mengadakan usaha yang sungguh sungguh, yang hanya sekedar menunggu Roh Kudus untuk memaksa mereka bertindak, akan binasa dalam kegelapan.  Janganlah hanya duduk diam dan tidak melakukan apa apa dalam pekerjaan Allah” Christian Service pp 228.

Ingat !!! Tuhan tidak pernah melalaikan kita.  Kita akan mendapatkan berkat yang penuh kesukaan jika kitapun tidak lalai dengan tugas dan tanggungjawab kita kepada Tuhan.  Firman Tuhan berbunyi:  ”Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” 2 Petrus 3:9.

Kiranya berkat yang limpah selalu menjadi bagian keluarga kita. 

Selamat Sabat.


Oleh :Pdt. Robert Walean, Jr. (diambil dari Kadnet)

Rabu, 25 Mei 2011

Hadiah Sejati

Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. —Efesus 5:25

Saya sungguh kagum dengan pengaruh yang diberikan istri saya, Martie, terhadap kehidupan anak-anak kami. Tidak banyak peran yang menuntut pengorbanan dan ketekunan diri serta komitmen tanpa pamrih, seperti peran yang dimiliki oleh seorang ibu. Saya tahu dengan pasti bahwa karakter dan iman saya dibentuk dan dibangun oleh ibu saya, Corabelle. Akuilah, apa jadinya kita tanpa istri dan ibu kita?

Hal ini mengingatkan saya pada salah satu peristiwa favorit saya dalam dunia olahraga. Phil Mickelson berjalan menyusuri lahan datar setelah lubang ke-18 dalam Turnamen Golf Masters di tahun 2010 setelah ia menyelesaikan pukulan terakhirnya untuk memenangi kejuaraan golf yang paling bergengsi tersebut untuk ketiga kalinya. Namun, bukan lompatan kemenangan Phil di atas lapangan yang membuat saya terkesan, melainkan saat-saat ketika ia berjalan menerobos kerumunan penonton untuk menemui sang istri, yang sedang berjuang melawan kanker yang mengancam jiwanya. Mereka pun berpelukan, dan kamera menangkap tetes air mata yang mengalir di pipi Phil, ketika ia memeluk erat istrinya untuk waktu yang cukup lama.

Istri kita perlu mengalami kasih yang rela berkorban dan tanpa pamrih yang telah ditunjukkan kepada kita oleh Tuhan, Kekasih jiwa kita. Seperti Paulus berkata, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef. 5:25). Hadiah datang dan pergi, tetapi orang-orang yang Anda kasihi—dan yang mengasihi Anda—adalah yang terpenting dari semua. —JMS

Seorang pria yang mempunyai istri saleh
Telah diberkati secara luar biasa;
Dialah hadiah yang terbesar dalam hidup—
Harta yang berharga dan langka. —D. De Haan


Hidup dijalani bukanlah demi memenangi hadiah, melainkan demi orang yang kita kasihi.

Diambil dari RBCindonesia

Selasa, 17 Mei 2011

Pilihan selain balas dendam

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. —Imamat 19:18


Pada suatu hari Minggu ketika sedang berkhotbah, sang pendeta tiba-tiba ditegur dan ditonjok oleh seorang pria. Pendeta ini tetap melanjutkan khotbahnya, dan pria yang memukulnya ditangkap. Pendeta ini berdoa untuk pria tersebut, bahkan mengunjunginya di penjara beberapa hari kemudian. Sungguh suatu teladan tentang bagaimana cara menanggapi penghinaan dan kekerasan!

Meskipun seseorang diperbolehkan untuk membela diri, tetapi balas dendam pribadi adalah sesuatu yang dilarang dalam Perjanjian Lama: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN” (Im. 19:18; lihat juga Ul. 32:35). Balas dendam juga dilarang oleh Yesus dan para rasul (Mat. 5:38-45; Rm. 12:17; 1 Ptr. 3:9).

Hukum Perjanjian Lama membenarkan pemberian ganjaran yang setimpal (Kel. 21:23-25; Ul. 19:21), untuk memastikan bahwa hukuman peradilan tidak memihak atau bermaksud jahat. Namun, ada prinsip lebih besar yang mengancam berkaitan dengan dendam pribadi: Keadilan harus tetap ditegakkan, tetapi dengan cara menyerahkannya ke tangan Allah atau kepada pihak berwenang yang ditetapkan oleh-Nya.

Alih-alih membalas dendam atas penderitaan dan penghinaan yang dialami, marilah kita menjalani pilihan hidup lain yang memuliakan Kristus dan yang dimampukan Roh-Nya: hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Rm. 12:18), tunduk kepada seorang pengantara rohani (1 Kor. 6:1-6), dan menyerahkan masalahnya kepada pihak yang berwenang, dan terutama sekali ke tangan Allah. —MLW

Tuhan, saat aku terganggu karena hinaan orang lain, tolong aku
melepaskan hasrat untuk balas dendam. Kiranya aku mencari
keadilan dengan menyadari bahwa itu akan terjadi sesuai waktu-Mu.
Aku mau belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Amin. 

Serahkan keadilan akhir ke tangan Allah yang Maha adil.
Diambil dari RBC Indonesia 

Senin, 16 Mei 2011

Badai yang mengkoreksi

Bacaan Hari ini :
Ibrani 12:5-6  "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 'Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.'"


Badai akan datang dalam kehidupan, dalam bentuk penderitaan atau krisis atau bahkan tragedi.
Akan ada saat ketika kita bisa mengantisipasi badai, ketika kita melihat awan mulai gelap dan mendengar bunyi guntur dari kejauhan.
Di lain waktu, badai akan tiba dengan tidak terduga.
Tetapi siapapun tidak akan dapat melewatkan kenyataan bahwa kita semua pasti akan melalui badai.

Kita dapat membawa beberapa badai pada diri kita sendiri sebagai hasil dari tindakan-tindakan kita.
Kita  melakukan sesuatu yang salah dan kita akan menghadapi konsekuensi.
Sebuah contoh klasik dari hal ini adalah pengalaman Yunus.
Tuhan telah memanggil Yunus, orang Israel, untuk pergi dan membawa pesan pertobatan ke kota besar Niniwe.
Tetapi orang-orang Niniwe adalah musuh Israel.
Jadi Yunus berpikir bahwa jika dia berkhotbah kepada orang Niniwe, mereka mungkin akan bertobat dan Tuhan akan mengasihani mereka.
Di sisi lain, jika dia tidak berkhotbah kepada mereka, mereka tidak akan mau bertobat, dan Tuhan akan menghancurkan mereka.
Maka musuh Israel akan berkurang satu lagi.
Jadi, Yunus naik sebuah kapal yang melakukan perjalanan ke arah yang berlawanan dari yang Tuhan telah perintahkan.

Badai mengerikan berkecamuk begitu parah, yang bahkan membuat para pelaut berpengalaman mulai memanggil dewa-dewa mereka, berharap untuk diselamatkan.
Akhirnya ditetapkan bahwa badai yang mereka hadapi adalah hasil dari ketidaktaatan Yunus.
Jadi Yunus dibuang ke laut, dan Anda tahu sisa ceritanya.

Itulah yang kita sebut sebagai badai yang mengoreksi.
Badai yang mengoreksi adalah pengingat bahwa Allah mengasihi kita.
Jika Allah tidak mengasihi Yunus, Dia tidak akan mengirimkan badai.
Tetapi Dia ingin menarik perhatian Yunus dan membuatnya kembali ke dalam jalur yang benar.
Jadi, jika Anda menemukan diri Anda berada di tengah-tengah badai yang mengoreksi, ketahuilah bahwa itu adalah karena Allah mengasihi Anda.
 
Tuhan akan menegur dan menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya mereka dapat kembali ke jalur yang benar menuju berkat dan kehidupan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)

Sabtu, 14 Mei 2011

Singkirkanlah yang tidak perlu

Yesaya 62:10
“Berjalanlah, berjalanlah melalui pintu-pintu gerbang, persiapkanlah jalan bagi umat, bukalah, bukalah jalan raya, singkirkanlah batu-batu, tegakkanlah panji-panji untuk bangsa-bangsa!”




Suatu hari seorang wanita muda mengunjungi Michaelangelo di sanggar patungnya. Wanita tersebut begitu terkesima melihat Angelo bekerja, ia berkata, “Saya tahu bahwa mematung itu begitu mudah setelah melihat cara kerja Anda. Karena saya yakin saya juga dapat melakukannya.” “Tentu, sama sekali tidak sulit,” jawab Angelo. “Semua yang Anda butuhkan hanyalah sebongkah marmer, palu, pahat. Kemudian Anda hanya memukul-mukul dan membuang bagian marmer yang tidak Anda inginkan.”

Tahukah Anda bahwa untuk menjadi seorang yang unggul, manusia cukup membuang bagian-bagian yang tidak kita inginkan dalam hidup? Apa sajakah itu? Kemalasan, menunda-nunda pekerjaan, egois - segala sifat buruk yang sebenarnya dapat kita buang. Namun, itu semua tergantung pada sikap kita sendiri. Ingatlah akan hal ini: daging memang lemah, tetapi roh penurut.

Jika kita terus melatih roh kita, maka makin lama roh kitalah yang akan kuat. Dan dengan sendirinya justru kita bisa mengalahkan kebiasaan-kebiasaan negatif. Mungkin ada yang berkata, “Ya, sebenarnya saya mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang merugikan, tetapi jujur saya menyadari bahwa saya tidak sanggup.” Benarkah ini? Mengubah kebiasaan-kebiasaan negatif bukanlah soal bisa atau tidak bisa, tetapi lebih kepada adakah kemauan yang kuat untuk berubah.

Hari ini marilah kita berdoa agar Roh Kudus memberi kita kemampuan untuk mengubah setiap kebiasaan kita yang tidak berkenan di hati-Nya. Kemudian miliki komitmen untuk berubah. Dan lihatlah diri kita pasti menjadi pribadi yang semakin baik setiap harinya.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang terus dipelihara merupakan penghalang Anda untuk mencapai tujuan hidup yang Allah sudah rancangkan sebelumnya. 

Sumber: Renungan Bulanan Profesional Desember 2009

Rabu, 11 Mei 2011

Prasangka baik

 [Kasih] menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. —1 Korintus 13:7

Pada tahun 1860, Thomas Inman menganjurkan kepada dokter-dokter sejawatnya untuk tidak memberikan resep obat terhadap suatu penyakit, jika mereka tidak yakin akan khasiatnya. Mereka harus memberikan para pasien “prasangka baik” dari keraguan mereka. Di dunia hukum, istilah ini berarti bahwa bila juri menganggap bukti-bukti yang ada masih bertentangan dan menimbulkan keraguan, mereka harus memberikan keputusan “tidak bersalah.”

Mungkin sebagai orang Kristen, kita dapat belajar dan menerapkan istilah kedokteran dan hukum ini dalam hubungan kita dengan sesama. Lebih baik lagi, ternyata dari Alkitab kita dapat belajar untuk memberikan prasangka baik terhadap diri orang lain. Surat 1 Korintus 13:7 mengatakan bahwa kasih “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Leon Morris dalam seri tafsiran Tyndale New Testament Commentaries mengatakan bahwa istilah “percaya segala sesuatu” berarti “melihat sisi terbaik dari orang lain . . . Ini tidak berarti bahwa kasih itu mudah dibohongi, melainkan bahwa kasih itu tidak memikirkan yang terburuk (seperti kebiasaan duniawi pada umumnya). Kasih tetap mau percaya. Kasih tidak terperdaya . . . tetapi senantiasa siap memberikan prasangka yang baik terhadap sesama.”

Ketika kita mendengar suatu kabar negatif tentang seseorang atau ketika kita mencurigai motivasi dari tindakan mereka, marilah berhenti sejenak sebelum menentukan bahwa maksud mereka baik atau buruk. Marilah kita memberi mereka prasangka yang baik. —AMC
Jangan terlalu cepat menghakimi apa yang kau lihat;
Jangan ditipu oleh kesan pertama;
Kesalahpahaman jadi berlipat ganda,
Jika tanpa informasi yang benar. —Sper

Kasih memberikan prasangka baik terhadap orang lain.
 
Diambil dari: rbcindonesia 

Selasa, 10 Mei 2011

Memiliki hati yang terbuka

Bacaan Hari ini :
Kisah Para Rasul 16:14 "Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus."


Di kota Filipi, dimana Allah telah mengarahkan Paulus dan mereka yang berjalan dengan dia, ada sekelompok perempuan yang berkumpul bersama di tepi sungai untuk berdoa.
Paulus mulai berbicara kepada perempuan-perempuan itu, dan mengatakan kepada mereka beberapa hal yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Mereka terbiasa untuk hidup di bawah hukum taurat Yahudi, dan Paulus menyampaikan pesan mengenai kasih karunia.
Salah satu perempuan yang bernama Lidia memiliki hati yang terbuka untuk menerima apa yang Paulus katakan.

Alasan mengapa hati yang terbuka begitu penting adalah bahwa tanpa hati yang terbuka, kita tidak akan dapat mendengarkan sesuatu yang baru atau berbeda dari yang kita kenal atau tahu.
Sungguh menakjubkan bahwa kadang kita menolak untuk percaya pada hal-hal yang ada didalam Alkitab karena hal-hal tersebut bukan bagian dari apa yang telah diajarkan pada kita di masa lalu.
Mengapa kita tidak bisa memiliki iman yang progresif?
Mengapa kita tidak bisa menerima bahwa mungkin ada beberapa hal yang kita tidak tahu?
Itu tidak berarti kita harus menjadi begitu terbuka sehingga kita bisa percaya pada kebohongan setan, tetapi ini berarti bahwa kita tidak perlu terlalu berpikiran sempit, sehingga kita tidak dapat menerima sesuatu yang baru.

Kita tidak perlu takut untuk mendengarkan hal-hal baru yang dikatakan, karena sebagai orang percaya, kita dapat memeriksa sendiri dengan membaca Alkitab dan berbicara kepada Allah tentang hal itu, untuk melihat apakah hal itu adalah benar.
Saya prihatin pada orang-orang yang berpikir bahwa hanya ada satu cara yang benar untuk melakukan sesuatu, dan itu adalah cara mereka sendiri.
Kita harus memiliki hati yang terbuka.

Ini akan menuntun kita untuk terus belajar dan mendapatkan kebenaran firman Tuhan.

Memiliki hati yang terbuka adalah kunci untuk dapat menerima kebenaran firman Tuhan yang akan mengubah kehidupan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Joice Meyer)

Senin, 09 Mei 2011

Kasih yang menolong

Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. —Yohanes 1:14


Di akhir hidup ibu saya di dunia ini, ia dan Ayah masih begitu saling mengasihi dan sama-sama memiliki iman yang teguh dalam Kristus. Ibu mengidap penyakit dementia (penurunan daya ingat) dan mulai kehilangan semua ingatannya, bahkan tentang keluarganya sendiri. Namun, ayah tetap rajin mengunjunginya di rumah tempat ibu dirawat dan berusaha begitu rupa untuk menyesuaikan diri dengan kondisinya yang terus menurun.
Misalnya, ayah akan membawakan sekeping permen, membukakan bungkusnya, dan meletakkannya di mulut ibu—sesuatu yang tak dapat dilakukan sendiri oleh ibu. Kemudian saat ibu mengunyah permen itu perlahan-lahan, ayah hanya duduk diam di samping ibu dengan memegang tangannya. Ketika waktu kebersamaan mereka berakhir, ayah, dengan senyum lebar berkata, “Aku merasa begitu damai dan bersukacita menghabiskan waktuku bersamanya.”

Walaupun tersentuh oleh sukacita ayah yang besar dalam menolong ibu, saya lebih tersentuh oleh kenyataan bahwa ayah sedang mencerminkan kasih karunia Allah. Yesus rela merendahkan diri-Nya supaya dapat menjalin hubungan dengan kita dalam segala kelemahan kita. Ketika merenungkan tentang inkarnasi Kristus, Yohanes menulis, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh. 1:14). Dengan mengenakan keterbatasan manusia, Yesus bertindak dalam belas kasihan yang tidak terhitung banyaknya untuk melayani kita yang lemah.

Apakah Anda mengenal seseorang yang memerlukan kasih Yesus yang rela menolong dan melayani, yang dapat mengalir melalui Anda kepadanya hari ini? —HDF

Kasih memberikan apa yang dibutuhkan dunia,
Kasih saling berbagi seturut pimpinan Roh,
Kasih memberikan perhatian ketika dunia menangis,
Kasih berbelaskasih kepada mereka yang Kristus kasihani. —Brandt
 
Untuk menjadi saluran berkat, perkenankan kasih Kristus mengalir melalui Anda.
 
Diambil dari RBC indonesia
 

Minggu, 08 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan berkomitmen padaNya

Bacaan Hari ini :
Roma 12:1 "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."

 
Salah satu cara Anda dapat mengungkapkan kasih Anda untuk Tuhan adalah dengan berkomitmen kepada-Nya.
Inilah arti sebenarnya dari kasih: komitmen.
Anda tidak benar-benar mencintai seseorang kecuali jika Anda berkomitmen untuk melakukan yang terbaik bagi mereka.

Tidak ada hal penting dalam hidup Anda yang terjadi tanpa komitmen.
Komitmen Anda menentukan masa depan Anda.
Jati diri Anda menjadi seperti komitmen Anda, jadi pilihlah komitmen Anda dengan hati-hati.
Jika Anda berkomitmen untuk hal yang salah, Anda akan menjadi hal yang salah.

Anda tidak akan pernah rugi dengan menjadi berkomitmen kepada Tuhan.
Alkitab memberitahu kita dalam 2 Tawarikh 16:9 bahwa Tuhan mencari orang-orang yang hatinya berkomitmen penuh kepada-Nya sehingga Ia dapat memberkati dan memakai orang-orang tersebut.


Apa artinya berkomitmen pada Tuhan?

- Memberikan hidup saya kepada Yesus Kristus.

- Berkomitmen kepada keluarga Tuhan -- tubuh Kristus, yaitu gereja -- dan bergabung dengan keluarga gereja.

- Memilih untuk bertumbuh secara rohani dan menjadi lebih dan lebih seperti Yesus Kristus dari hari ke hari dalam karakter saya.

- Menggunakan bakat saya dan karunia saya untuk membantu orang lain.

- Berbagi kabar baik dengan orang lain serta memenuhi misi dan tujuan yang diberikan Tuhan untuk saya lakukan di dunia.


Komitmen ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya sesuatu yang terjadi dalam empat sisi dinding gedung gereja.
Ibadah bisa terjadi di mana saja saat Anda "mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1)
 
Mengasihi Tuhan berarti Anda memberikan hidup Anda pada Tuhan dan berkomitmen pada Dia.

(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Sabtu, 07 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan menyatakan anda milikNYA

Bacaan Hari ini :
Roma 6:4 "Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru"


Baptisan menyatakan tiga landasan teguh untuk menyatakan kepada publik bahwa Anda adalah milik Tuhan.

Alasan pertama bahwa Anda perlu dibaptis adalah dengan mengatakan, "Saya percaya dalam kematian dan kebangkitan Yesus."
Dengan gambaran bahwa melalui baptisan, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. (Roma 6:4)

Kedua, baptisan merupakan gambaran tentang apa yang terjadi pada Anda: "karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan didalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati." (Kolose 2:12)
Ketika Anda dibaptis, Anda menyatakan bahwa, "Saya mati untuk semua dosa lama saya. Semuanya telah diampuni, dilupakan, dan telah keluar dari hidup saya. Sekarang, saya mulai hidup baru saya dalam Kristus."

Ketiga, melambangkan kehidupan baru yang Anda miliki dalam Yesus Kristus: "Dan semua yang telah menyatu dengan Kristus dalam baptisan, telah mengenakan Kristus, seperti memakai pakaian yang baru." (Galatia 3:27 NLT)

Ketika Anda dibaptis, Anda menyatakan bahwa, "Saya mati untuk semua dosa lama saya. Semuanya telah diampuni, dilupakan, dan telah keluar dari hidup saya. Sekarang saya mulai hidup baru saya dalam Kristus."


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Kamis, 05 Mei 2011

Waktunya berdoa?


Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN! —Mazmur 70:2

Di suatu pagi, ketika saya masih kanak-kanak, saya duduk di dapur dan melihat ibu saya menyiapkan sarapan. Tiba-tiba saja, minyak dalam wajan, tempat ia sedang menggoreng daging, tersambar api. Lidah-lidah api meletup ke udara dan ibu saya segera berlari ke lemari dapur mengambil sekantung tepung untuk dilemparkan ke api tersebut.
“Tolong!” teriak saya. Kemudian saya menambahkan, “Andai saja ini waktunya berdoa!” “Waktunya berdoa” telah menjadi ungkapan yang sering diucapkan di rumah kami, dan saya mengartikannya secara harfiah bahwa kami dapat berdoa hanya di waktu-waktu tertentu saja.
Tentu saja yang dimaksud dengan “waktu berdoa” adalah kapan saja—terlebih ketika kita sedang dalam krisis. Ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan kecemasan adalah waktu-waktu yang paling umum bagi kita untuk memanjatkan doa. Ketika kita mengalami keterpisahan, terabaikan, dan terputus dari segala kekuatan manusiawi yang kita punya, pada saat itulah kita terdorong secara alami untuk berdoa. Kita berseru sebagaimana Daud berseru, “Tolonglah aku, ya TUHAN” (Mzm. 70:2).
John Cassian, tokoh Kristen di abad ke-5, menulis kalimat ini: “Doa adalah seruan ketakutan dari seseorang yang melihat perangkap musuh, seruan seseorang yang dikepung siang dan malam, dan menyatakan bahwa ia tak akan dapat lepas kecuali Pelindungnya datang untuk menyelamatkannya.”
Kiranya ini menjadi doa kita yang sederhana dalam setiap krisis yang dihadapi dan di sepanjang hari kita: “Tuhan, tolong aku!” —DHR

Kapan pun kita menolong sesama,
Atau ketika kita menanggung beban berat,
Adalah waktunya berseru kepada Bapa kita,
Menjadi waktu yang tepat untuk berdoa. —Zimmerman
Tak ada tempat dan tak ada waktu dimana kita tak dapat berdoa.

(Diambil dari: rbcindonesia.org)

Rabu, 04 Mei 2011

Mengasihi Tuhan dengan berbicara kepadaNya

 
Bacaan Hari ini :
Mazmur 116:1-2 "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya."

Salah satu cara untuk menyembah Tuhan adalah dengan berbicara kepada-Nya.

Ketika Anda benar-benar mencintai seseorang, Anda tidak hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang itu, Anda ingin berbicara dengan dia juga.
Pikirkan tentang dua remaja yang sedang jatuh cinta, mereka selalu berbicara di telepon sepanjang waktu.

Mereka bicara dan bicara dan bicara.
Mereka ingin mengenal satu sama lain.
Itulah cara Anda mengenal seseorang -- melalui komunikasi.
Jika pasangan Anda tidak pernah berbicara dengan Anda, Anda memiliki semua alasan untuk mulai bertanya-tanya, "Apakah dia mencintai saya?"

Dan itulah mengapa kita menunjukkan pada Tuhan bahwa kita mengasihi-Nya ketika kita berbicara kepada-Nya.
Apa yang Anda bicarakan kepada Allah selama Anda menyembah-Nya?
Apa pun akan Anda bicarakan dengan teman terbaik Anda: harapan Anda, ketakutan Anda, mimpi Anda, kecemasan Anda, hal-hal yang Anda banggakan, hal-hal yang membuat Anda malu, tujuan Anda, ambisi Anda, sakit hati Anda, setiap bagian dari kehidupan Anda.
Anda datang kepada Tuhan dan Anda berbicara pada Tuhan tentang apa saja dan segalanya.

Alkitab mengatakan, "Aku mengasihi TUHAN, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohonanku.
Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya." (Mazmur 116:1-2)
Jika Anda tidak merasa dekat dengan Tuhan, ada solusi yang sederhana untuk itu: mulai berbicara kepada-Nya!
Dia telah mengundang Anda untuk berbicara dengan Dia, Dia ingin berbicara dengan Anda.
Doa bukanlah seperti tugas yang harus Anda lakukan.
Doa adalah kehormatan yang bisa Anda lakukan.
Anda bisa berbicara dengan Pencipta alam semesta.

Anda mungkin berkata, "Saya ingin punya waktu doa lebih banyak dengan Tuhan. Saya ingin berbicara dengan Tuhan. Tapi saya selalu tidak punya waktu."
Lalu Anda menjadi terlalu sibuk...
Anda tidak akan pernah punya waktu, Anda harus menyediakan waktu untuk berdoa.
Jika kehidupan Kristen Anda telah menjadi rutin, membosankan, dan tanpa sukacita, segera bawa diri Anda pada Tuhan dan berbicara kepada-Nya.

Doa bukanlah rutinitas agamawi, doa adalah suatu kehormatan, ketika kita memiliki akses langsung untuk berbicara pada Tuhan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotional by Rick Warren)

Selasa, 03 Mei 2011

Tak pernah sendiri

Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” —Ibrani 13:5

Karena pernah bermain dalam kejuaraan sepakbola antar universitas, kecintaan saya terhadap olahraga yang dijuluki ‘permainan indah’ itu tidak pernah pudar. Saya terutama sangat suka menonton pertandingan Liga Utama Inggris. Salah satu alasannya adalah karena keahlian dan kecepatan yang ditampil-kan pada setiap pertandingan yang dimainkan. Saya juga suka bagaimana para penggemar bernyanyi untuk menyemangati tim kesayangan mereka. Liverpool, contohnya, telah bertahun-tahun memakai lagu tema You’ll Never Walk Alone (Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri). Betapa mengharukan mendengar 50.000 penggemar menyatukan suara untuk menyanyikan bait demi bait dari lagu kuno itu! Sungguh suatu penggugah semangat baik bagi pemain maupun penggemar ketika bersama mereka berjanji akan saling mendukung sampai akhir. Takkan pernah berjalan sendiri.

Perasaan ini juga berarti bagi setiap orang. Karena setiap dari kita diciptakan untuk hidup bersama, keterasingan dan kesendirian adalah bagian dari pengalaman manusia yang paling menyakitkan. Di masa-masa menyakitkan ini, iman berperan penting.
Seorang anak Tuhan tidak perlu merasa takut diterlantarkan. Bahkan ketika orang berpaling dari kita, teman-teman melupakan kita, atau keadaan memisahkan kita dari orang yang kita kasihi, kita tak pernah sendiri. Allah telah berkata “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5). Ini bukan sekadar lagu indah ataupun lirik cerdas tanpa makna. Ini adalah janji dari Allah sendiri bagi mereka yang menjadi objek kasih-Nya. Dia selalu ada—dan Dia tidak akan kemana-mana.
Bersama Kristus, Anda takkan pernah berjalan sendiri. —WEC

Kehadiran Allah yang tak terlihat, menenteramkanku,
Kutahu Dia selalu dekat denganku;
Dan ketika badai kehidupan melanda jiwaku,
Dia berkata, “Janganlah takut, anakku.” —D. De Haan


Kehadiran Allah bersama kita adalah salah satu dari anugerah-Nya yang luar biasa bagi kita.

(Diambil dari: rbcindonesia.org)

Senin, 02 Mei 2011

Terus pegang Janji-Nya

Bacaan Hari ini :
Filipi 3:13 "Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku"


Suatu hari, saya merenungkan apa yang Paulus katakan dalam Filipi 3:13.
Pada dasarnya dia berkata, "Anda tahu, saya tidak sempurna. Saya belum mencapai semuanya. Tapi satu hal yang saya lakukan -- saya terus bergerak maju.."
Dan kemudian dia memberitahu kita apa yang dia lakukan untuk bergerak maju, yaitu dia meninggalkan masa lalunya.
Dengan kata lain, dia tidak mengidentifikasi masa lalu, sebaliknya dia mengidentifikasi Firman Tuhan, dia mengidentifikasi masa depannya.

Ini tidak selalu mudah.
Bahkan, ini adalah sebuah perjuangan.
Tapi Anda tahu, bahwa Anda menang selama Anda terus berjuang!
Kita harus tinggal dalam pertandingan jika kita mau menang!
Musuh akan berusaha sepanjang hari untuk membawa Anda keluar dengan mengingatkan Anda tentang apa yang terjadi di masa lalu Anda.
Dia akan mengingatkan Anda setiap kali Anda melakukan kesalahan atau sedang terjebak dalam masalah.
Dia akan menyerang keras di medan perang pikiran Anda.
Tapi apakah Anda tahu cara melawan pikiran-pikiran negatif ketika mereka datang?
Dengan memperkatakan kebenaran Firman Tuhan keluar dari mulut Anda.
Faktanya, Anda tidak dapat berbicara satu hal dan berpikir tentang sesuatu yang berbeda.
Pikiran Anda harus mengikuti kata-kata Anda.
Itu sebabnya Matius 6:31 berkata, "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?"
Karena ketika Anda mengatakan sesuatu, Anda memegangnya dalam hati Anda.
Jika Anda mengucapkan kata-kata khawatir, Anda akan memegang kekhawatiran.
Jika Anda berbicara tentang janji-janji Allah, Anda memegang janji-janji Allah.

Hari ini, saya mendorong Anda untuk berpegang pada hal-hal baik yang Tuhan siapkan untuk masa depan Anda.
Seperti Paulus, hanya ada satu hal yang perlu Anda fokuskan, fokus pada bergerak maju.
Fokus pada memperkatakan Firman Tuhan atas diri sendiri dan keluarga Anda setiap hari.
Peganglah kebenaran dan ikatkan pada hati Anda.
Biarkan Firman-Nya memelihara dan menyegarkan jiwa Anda.
Ketika Anda menetapkan untuk fokus ke depan, Anda akan bergerak maju.
Anda akan memegang janji-Nya dan mengalami sukacita yang telah Dia tetapkan untuk Anda alami dalam hidup Anda!

Apapun yang terjadi dalam hidup Anda, tetap berpegang pada janji Tuhan dan terus bergerak maju di dalam Tuhan.

(Diterjemahkan dari Hope for Today by Victoria Osteen)

Minggu, 01 Mei 2011

Menciptakan Peluang


Kejadian 45:5
“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku kesini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”


Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 120; 1 Korintus 9; 1 Samuel 5-7

Menurut Diana Kirschner, Ph.D., psikolog dan ahli komunikasi, rasa cemburu adalah suatu bentuk pemikiran negatif yang datang dari dalam sendiri. Melalui penelitian, terbukti bahwa rasa cemburu bisa menimbulkan ketegangan dan depresi. Sebagaimana diketahui, rasa cemburu bisa berujung pada sakit hati, curiga, ledakan amarah, bahkan kemunduran kualitas dalam berhubungan. Tapi, mungkinkah rasa cemburu diubah menjadi sesuatu yang positif? Inilah salah satu caranya.

Ketika rasa cemburu mulai merayapi pikiran, sadari bahwa hal itu merupakan tanda betapa Anda sangat menyayangi pasangan. Daripada melelahkan diri dengan pikiran-pikiran negatif, cobalah untuk mendekati pasangan Anda dan katakan betapa sayangnya Anda kepadanya.

Di kehidupan ini kadang kita tidak tidak bisa memilih. Suka atau tidak, kita harus belajar untuk menerima segala sesuatu apa adanya. Kenyataan di depan kita adalah fakta tak terbantahkan dan kita tidak memiliki alternatif lain. Jika hal seperti ini terjadi, bagaimana tindakan selanjutnya? Apakah kita harus marah dengan situasi yang ada? Marilah kita belajar dari kehidupan tokoh Alkitab Perjanjian Lama bernama Yusuf.

Yusuf adalah pemuda yang harus kehilangan kemerdekaan dan harkat sebagai orang merdeka karena dijual para saudaranya yang iri kepadanya. Berbagai pengalaman berat setelah itu pun harus ia alami. Namun, Yusuf tidak sudi menyerah. Dengan pertolongan Allah, ia berhasil mengubah semua rintangan di jalan kehidupannya sebagai kesempatan. Dalam beberapa tahun, ia akhirnya diangkat oleh Firaun sebagai penguasa kedua di Mesir.

Belajar dari kehidupan Yusuf diatas, marilah kita menjawab tantangan sepanjang hari ini. Ubahlah paradigma tentang ketakutan terhadap tantangan menjadi kesempatan untuk meraih keberhasilan. Allah yang ada di dalam diri kita sanggup melakukan segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Pengenalan diri yang diselaraskan dengan Firman Tuhan akan membuahkan keberhasilan sejati.
 
(Diambil dari:Renunganhariankita.blogspot.com)