" Dia yang tidak mengenal dosa dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Korintus 5:21).
Tanggal 31 Desember 1995, John Clancy, seorang veteran pemadam kebakaran New York City, memimpin timnya ke apartemen kosong yang terbakar di wilayah narkoba Manhattan bagian bawah. Ketika api berkobar di luar kendali para pemadam kebakaran, khawatir jangan-jangan seseorang masih ada di dalam bangunan-meskipun orang-orang yang menghuninya hanyalah orang-orang tunawisma, pecandu obat, pecandu alkohol, dan pelacur-maka Clancy dan rekan rekannya memutuskan memasuki neraka itu melakukan pencarian dan penyelamatan. Asap membuat pandangan hampir tak kelihatan.
Tiba-tiba atap lantai kedua runtuh, menjebak Clancy. Para rekannya berusaha sekuat tenaga melepaskan dia, namun ketika mereka akhirnya menarik dia keluar, sudah terlambat. Tubuhnya terbakar tanpa bisa dikenal. Hari terakhir tahun 1995 itu adalah hari terakhir kehidupan pemadam kebakaran yang berani ini. Ia meninggalkan seorang istri yang sedang hamil enam bulan dan masa depan yang mereka rencanakan bersama.. John Clancy percaya bahwa semua kehidupan itu berharga, dan bersedia membahayakan hidupnya sendiri untuk menyelamatkan siapa saja yang ada dalam bangunan itu. Ia meninggalkan rumahnya sendiri yang aman menuju bahaya api yang mengamuk. Ia memasuki bara api untuk menyelamatkan kehidupan dan kehilangan nyawanya sendiri. Pengabdiannya pada tugas telah dibayar denga nyawanya. Ia tidak bisa tinggal diam saat ia mengetahui orang lain dalam bahaya.
Para penyelidik menemukan bahwa kebakaran itu sengaja dilakukan. Edwin Smith salah seorang "yang terpinggirkan" yang dilaporkan berada dalam bangunan, yang membakarnya. John Clancy sedang menyelamatkan orang yang membakar bangunan itu. Ia memberikan nyawanya untuk seorang penyulut api.
Dua ribu tahun yang lalu, Seorang yang lain berjalan menuju api kematian itu sendiri untuk menyelamatkan kita. Ia membebaskan kita dari api neraka yang menyala-nyala. Ketika Kristus mati, Ia dengan rela menerima kutukan kematian di atas diri-Nya sendiri. Ayat hari ini menyatakan, "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." Yesus tidak pernah berdosa, tetapi Ia jadi berdosa karena kita. Ia dengan rela menerima semua rasa malu dan kesalahan pada diri-Nya sendiri untuk dosa-dosa kita.
Ia menjalani kematian yang pantas kita terima agar kita bisa menjalani kehidupan yang sepatutnya bagi Dia. Ketika Yesus menjalani penderitaan yang menyiksa di salib Ia merasakan perpisahan dari Bapa-Nya. Dalam kata-kata "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat. 27:46), Yesus mengekspresikan perasaan kehilangan-Nya itu. Juruselamat kita mengalami kematian untuk orang-orang yang berdosa.
Kasih Yesus menempuh perjalanan jauh. Ia mengalami penderitaan neraka itu untuk menyelamatkan kita. Dalam terang kasih-Nya itu, yang bisa kita lakukan adalah jatuh di kaki-Nya dan menyembah selamanya. Ia layak mendapatkan pujian kita yang tertinggi.
(Diambil dari buku :Tidak tergoyahkan, karangan Mark Finley, hlm 28)
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.