Selasa, 17 Mei 2011

Pilihan selain balas dendam

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN. —Imamat 19:18


Pada suatu hari Minggu ketika sedang berkhotbah, sang pendeta tiba-tiba ditegur dan ditonjok oleh seorang pria. Pendeta ini tetap melanjutkan khotbahnya, dan pria yang memukulnya ditangkap. Pendeta ini berdoa untuk pria tersebut, bahkan mengunjunginya di penjara beberapa hari kemudian. Sungguh suatu teladan tentang bagaimana cara menanggapi penghinaan dan kekerasan!

Meskipun seseorang diperbolehkan untuk membela diri, tetapi balas dendam pribadi adalah sesuatu yang dilarang dalam Perjanjian Lama: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN” (Im. 19:18; lihat juga Ul. 32:35). Balas dendam juga dilarang oleh Yesus dan para rasul (Mat. 5:38-45; Rm. 12:17; 1 Ptr. 3:9).

Hukum Perjanjian Lama membenarkan pemberian ganjaran yang setimpal (Kel. 21:23-25; Ul. 19:21), untuk memastikan bahwa hukuman peradilan tidak memihak atau bermaksud jahat. Namun, ada prinsip lebih besar yang mengancam berkaitan dengan dendam pribadi: Keadilan harus tetap ditegakkan, tetapi dengan cara menyerahkannya ke tangan Allah atau kepada pihak berwenang yang ditetapkan oleh-Nya.

Alih-alih membalas dendam atas penderitaan dan penghinaan yang dialami, marilah kita menjalani pilihan hidup lain yang memuliakan Kristus dan yang dimampukan Roh-Nya: hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang (Rm. 12:18), tunduk kepada seorang pengantara rohani (1 Kor. 6:1-6), dan menyerahkan masalahnya kepada pihak yang berwenang, dan terutama sekali ke tangan Allah. —MLW

Tuhan, saat aku terganggu karena hinaan orang lain, tolong aku
melepaskan hasrat untuk balas dendam. Kiranya aku mencari
keadilan dengan menyadari bahwa itu akan terjadi sesuai waktu-Mu.
Aku mau belajar mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Amin. 

Serahkan keadilan akhir ke tangan Allah yang Maha adil.
Diambil dari RBC Indonesia 

Senin, 16 Mei 2011

Badai yang mengkoreksi

Bacaan Hari ini :
Ibrani 12:5-6  "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 'Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.'"


Badai akan datang dalam kehidupan, dalam bentuk penderitaan atau krisis atau bahkan tragedi.
Akan ada saat ketika kita bisa mengantisipasi badai, ketika kita melihat awan mulai gelap dan mendengar bunyi guntur dari kejauhan.
Di lain waktu, badai akan tiba dengan tidak terduga.
Tetapi siapapun tidak akan dapat melewatkan kenyataan bahwa kita semua pasti akan melalui badai.

Kita dapat membawa beberapa badai pada diri kita sendiri sebagai hasil dari tindakan-tindakan kita.
Kita  melakukan sesuatu yang salah dan kita akan menghadapi konsekuensi.
Sebuah contoh klasik dari hal ini adalah pengalaman Yunus.
Tuhan telah memanggil Yunus, orang Israel, untuk pergi dan membawa pesan pertobatan ke kota besar Niniwe.
Tetapi orang-orang Niniwe adalah musuh Israel.
Jadi Yunus berpikir bahwa jika dia berkhotbah kepada orang Niniwe, mereka mungkin akan bertobat dan Tuhan akan mengasihani mereka.
Di sisi lain, jika dia tidak berkhotbah kepada mereka, mereka tidak akan mau bertobat, dan Tuhan akan menghancurkan mereka.
Maka musuh Israel akan berkurang satu lagi.
Jadi, Yunus naik sebuah kapal yang melakukan perjalanan ke arah yang berlawanan dari yang Tuhan telah perintahkan.

Badai mengerikan berkecamuk begitu parah, yang bahkan membuat para pelaut berpengalaman mulai memanggil dewa-dewa mereka, berharap untuk diselamatkan.
Akhirnya ditetapkan bahwa badai yang mereka hadapi adalah hasil dari ketidaktaatan Yunus.
Jadi Yunus dibuang ke laut, dan Anda tahu sisa ceritanya.

Itulah yang kita sebut sebagai badai yang mengoreksi.
Badai yang mengoreksi adalah pengingat bahwa Allah mengasihi kita.
Jika Allah tidak mengasihi Yunus, Dia tidak akan mengirimkan badai.
Tetapi Dia ingin menarik perhatian Yunus dan membuatnya kembali ke dalam jalur yang benar.
Jadi, jika Anda menemukan diri Anda berada di tengah-tengah badai yang mengoreksi, ketahuilah bahwa itu adalah karena Allah mengasihi Anda.
 
Tuhan akan menegur dan menghajar orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya mereka dapat kembali ke jalur yang benar menuju berkat dan kehidupan.


(Diterjemahkan dari Daily Devotion by Greg Laurie)